Pagi ini, kopi terasa lebih pahit dari biasanya bukan karena kurang gula, tapi karena terlalu banyak kata yang tak sempat diucapkan kemarin. Kata-kata yang tertahan di antara jeda meeting, senyum pura-pura, dan notifikasi yang tak sempat diabaikan. Aku duduk di sudut kafe yang sama, tempat yang pelan-pelan menghafal bentuk lelahku. Di luar, pagi berjalan cepat, seolah dunia tak pernah diajarkan cara melambat. Semua orang tampak sibuk, tapi siapa yang benar-benar hadir?
Wajah-wajah berlalu seperti skrip yang diulang harian rapi, efisien, tapi tak menyisakan ruang untuk gentar. Aku memandangi mereka seperti cermin retak, ada serpihan dari diriku juga di sana. Mungkin mereka juga menyimpan gelisah yang tak sempat dibicarakan, mimpi yang dikorbankan demi stabilitas. Kita semua pernah merasa terjebak dalam versi diri yang dibuat orang lain. Dan yang paling sunyi adalah saat kita sadar, tapi pura-pura tak apa.
Di zaman ketika segalanya bisa dipilih, yang paling sulit justru mendengar suara sendiri. Dunia menawarkan seribu arah, tapi lupa memberi kompas. Kita dibesarkan dengan pilihan jurusan, karier, pasangan tapi tidak pernah diajarkan cara mengenal diri. Akhirnya, kita sibuk memilih hal-hal besar, tapi kehilangan keberanian untuk memilih yang sederhana, diam, menunggu, merasa. Dan saat semua terasa terlalu cepat, kita tak lagi tahu sedang menuju ke mana.
Sartre pernah bilang, kebebasan adalah beban. Kutipan itu tak terdengar puitis saat kau harus memilih antara jadi diri sendiri atau diterima. Kita punya segalanya, hp, gelar, kesempatan. Tapi justru karena itu, kita sering kehilangan satu hal yang penting yakni kejujuran. Kejujuran untuk mengakui bahwa kita tak selalu tahu. Bahwa kita lelah menerka-nerka. Bahwa kita sedang tersesat di tengah riuh, ramai, sorak-sorai, sampah visual, sampah suara, dan sampah masyarakat di sekitar kita.
Jadi pagi ini aku memilih pelan. Kupandangi cangkir kopi yang mengepul seperti napas yang baru saja selesai menangis. Tak ada rencana besar, tak ada strategi hidup lima tahun ke depan. Hanya ingin tahu, bagaimana rasanya benar-benar duduk, tanpa ingin dipahami, tanpa perlu menjelaskan apa-apa. Mungkin kehadiran tak perlu diumumkan, cukup dirasakan dari cara kita berhenti sebentar.
Kopi ini pahit, tapi jujur. Dan kurasa dunia butuh lebih banyak hal seperti itu, yang tak memaksa manis, yang tak pura-pura ringan. Kita sudah terlalu sering dibujuk oleh hal-hal yang membius. Motivasi instan, tawa birokratik para amtenar dan pekikikan receh para petikelir. Kadang yang paling menyembuhkan justru yang tak menjanjikan apa-apa seperti duduk sendiri, ditemani pahit yang tak menipu.
Aku tidak sedang kuat hari ini, tapi juga tidak rapuh. Aku hanya sedang ada tanpa keinginan untuk menjadi lebih dari itu. Dan mungkin, ada saja sudah cukup untuk hari ini. Karena di tengah dunia yang mengejar makna besar, keberanian paling sederhana adalah membiarkan diri diam. Tak harus menang, tak harus terlihat. Cukup hadir dengan utuh, otentik kata Alwi Parhanuddin (MAP), Will to Survive kata Muhammad Rizky HK, dan tentu saja dengan Episteme kata Ishak Hariyanto.
Maka jika kau membaca ini sambil menyeruput kopi yang sama-sama dingin oleh waktu, tenang saja. Kita tidak sendiri dalam rasa ini. Kita sedang belajar menjadi manusia, bukan mesin. Dan tak apa kalau pagi ini hanya bisa dilalui, bukan ditaklukkan.
“Karena waktu tidak bisa dimiliki, hanya bisa digunakan” Bukan Hadist
Kadang hidup bukan tentang menjelaskan segalanya dengan beragam persfektif tapi tentang duduk, mendengar, dan berkata pelan “aku masih ada, dalam kudran ruang dan waktu”




