Ketika Honorer Traktir PNS

Oleh : Muhammad Alkaf.
Apa ada yang lebih celaka dari kisah ini: honorer membayar kopi PNS. Kenapa? Karena duit PNS sudah habis semua diambil oleh bank. Terkadang, lebih dari satu bank. Tapi duit yang diambil jadi sesuatu: rumah, pagar, mobil, biaya sekolah anak yang lumayan. Bank percaya dengan PNS. Tepatnya, percaya dengan SK yang mereka punya. Jadi, bank memberikan mereka duit yang banyak.
Tapi tidak bagi honorer. Bank tidak suka dengan golongan itu. Tidak ada tempat bagi mereka di bank. Karena honorer tidak memikirkan apa-apa untuk mendapatkan perhatian bank, sehingga gaji mereka yang memprihatinkan itu selalu utuh. Namun, tidak dengan PNS. Gaji mereka dipotong. Setiap bulan mereka berdarah-darah. Tapi kopi harus diminum. Semua orang harus minum kopi. Minum kopi ya di warung kopi.
Duduklah satu meja dua golongan itu: PNS dan honorer. PNS mengopi. Honorer juga. Tertawa bersama. Terbahak-bahak. Terkadang, tawa PNS lebih besar. Honorer tidak mau kalah, dia tertawa juga. Tidak kalah besar. Tapi ada rasa pilu. Selesai mengopi, pelayan dipanggil. PNS tidak punya uang lagi di kantongnya. Sudah diambil oleh bank. Honorer masih ada uang. Bank tidak mau uangnya honorer. Kopi pun dibayar oleh honorer. Masing-masing kembali ke tempatnya. Lalu, Honorer bingung. Uang sewa rumah mau habis. Kendaraan sudah butut. Pikiran buntu.
Di tempat lain, PNS tersenyum. Kopi sudah diminum. Kini tinggal menghitung waktu yang tepat, kapan ke bank lagi; istri muda baru saja mengirim pesan, “Bang, adik pengen mobil baru.”




