Esai

Adakah Kerendahan Hati dalam Diskursus Ilmiah?

oleh : Muhammad Rizky HK.

Apakah yang akan terjadi jika Galileo tidak bersikeras menentang geosentrisme yang dipegang oleh Gereja? Apa yang akan terjadi jika Darwin memilih berdamai dengan konsensus teologis? Apa pula yang akan terjadi jika Adam alaihissalam tidak memberanikan diri mendemonstrasikan pengetahuannya di hadapan malaikat?

Pertanyaan-pertanyaan itu tersusun untuk memberi catatan terhadap beberapa dialog dalam forum dialektika. Beberapa percakapan yang sebenarnya bersumber pada satu pertanyaan utama; Apakah sah untuk arogan dalam intelektualitas? Suatu pertanyaan yang hari-hari ini hangat diperbincangkan oleh beberapa kolumnis di Forum Dialektika.

Saya ingin menjawab ketiganya dengan satu pernyataan sederhana; Rendah hati adalah olah rasa, sementara mempertentangkan argumen dalam dialog adalah olah pikir. Keduanya bisa saja ada dalam saat bersamaan, bukan suatu hal yang menihilkan yang lain atau menegasikannya.

Dalam diskursus ilmiah, yang terbangun bukanlah ruang pengakuan batin, tetapi arena argumentatif yang menuntut keberanian untuk mengklaim, menolak, menantang, dan menegaskan.

Karena Ilmu tidak tumbuh dari humility, rasa sungkan, atau ewuh pakewuh, melainkan dari keyakinan epistemologis, atau bahkan dari bentuk arogansi epistemik tertentu: keyakinan bahwa pendapat saya benar, dan saya akan buktikan kebenarannya.

Kerendahan hati adalah satu hal, keteguhan epistemik adalah hal yang lain.

Kisah penciptaan adam alaihissalam adalah contoh yang paling pas untuk menggambarkan pernyataan ini, di mana kerendahan hati diwakilkan oleh malaikat (qaaluu subhanaka laa ‘ilma lana illa maa ‘allamtana), sementara keteguhan epistemik disimbolkan oleh Adam (falamma anba’ahum bi asmaaihim).

Keduanya tampak berlawanan, meskipun keduanya adalah permisalan yang ‘satu paket’ diberikan Tuhan. Jawaban malaikat adalah hasil dari ‘teguran’ Tuhan (qaala inni a’lamu ma laa ta’lamuun), sementara jawaban Adam adalah hasil dari didikan Tuhan (wa ‘allama aadamal asmaa kullaha).

Jawaban Adam dapat diartikan sebagai pertama kali lahirnya kesadaran manusia yang berani menamai, mengklasifikasi, dan mengklaim pengetahuan.

Di hadapan para malaikat, Adam tidak menunjukkan kerendahan hati; ia menunjukkan kemampuan untuk mengetahui secara mandiri. Suatu pertanda kelahiran arogansi epistemik untuk pertama kalinya, yakni keberanian untuk menganggap diri memiliki pengetahuan yang tak dimiliki makhluk lain.

Dan justru karena “arogan” secara intelektual inilah manusia diberi posisi istimewa: karena berani menafsirkan realitas, bukan sekadar menerima. Maka, superioritas Adam adalah simbol bahwa kemajuan ilmu memang lahir dari keberanian menantang otoritas, bukan dari ketundukan.

Atau menarik lagi jika kita mengulang kembali Kisah Imam Malik bin Anas.

Seorang laki-laki bertanya kepada Imam Malik tentang suatu masalah.” Imam Malik menjawab: “lâ uhsinuhâ “, aku tidak mengerti masalah itu dengan baik.”

Kemudian laki-laki itu berkata: “(Tolonglah) aku telah melakukan perjalanan jauh agar bisa bertanya kepadamu tentang masalah ini.”

Imam Malik berkata kepadanya: “Ketika kau kembali ke tempat tinggalmu, kabarkan pada masyarakat di sana bahwa aku berkata kepadamu: lâ uhsinuhâ, aku tidak mengerti masalah tersebut dengan baik.”

Secara sekilas, jawaban Imam Malik ini dianggap sebagai kerendahan hati, tetapi dalam perspektif lain, ini adalah bentuk kesadarannya akan tapal batas ilmu yang valid baginya; ia tidak berspekulasi tanpa dasar. “Aku tidak tahu” di sini bukan ekspresi batin yang merendah, melainkan bentuk otoritas ilmiah yang terukur, suatu bentuk pengakuan akan batas argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan kata lain, itu bukan kerendahan hati, tetapi kejujuran metodologis. Dan kejujuran ilmiah tak selalu identik dengan sikap rendah hati; ia bisa berdiri di atas keyakinan yang sangat tegas terhadap batas validitas ilmu itu sendiri.

Saya ingin menutup artikel ini dengan menukil konsep Gabor Maté, seorang psikologis asal Hungaria yang sedang naik daun karena dukungannya atas Palestina.

Dalam The Myth of Normal, Ia mengkritik masyarakat modern yang menormalisasi ilusi sehat, stabil, dan rasional. Keterjebakan kita dalam ilusi normalitas itulah yang menjebak kita dalam penyakit-penyakit mental yang ada pada masyarakat modern.

Maté menjelaskan bahwa banyak hal yang kita anggap sebagai normal dalam budaya modern bukanlah kondisi yang sehat atau alami — melainkan adaptasi terhadap tekanan, stres, atau trauma yang tersebar luas.

Tanpa ada arogansi intelektual untuk menolak ‘normalitas’ yang sakit ini, kita akan terjebak pada kondisi normalitas yang semu. Normal tapi sakit, Rendah hati tapi kosong.

Maté sendiri adalah contoh “arogansi ilmiah” yang produktif: ia menentang paradigma medis arus utama, menuduh budaya modern sebagai “beracun”, dan mengguncang batas disiplin psikologi serta kedokteran. Itu bukan kerendahan hati melainkan sebuah keberanian epistemologis. Ia yakin pandangannya benar, dan keyakinan itu membuka ruang wacana baru.

Dalam konteks ini, arogansi tidak berarti kesombongan pribadi, tetapi keberanian ilmiah untuk menegakkan klaim yang belum diterima umum.

Arogansi intelektual di sini bukan penyakit, tapi energi polemis yang membuat ilmu bergerak. Tanpa itu, diskursus akademik akan stagnan dalam “kerendahan hati” yang steril dan pasif, ketika semua orang saling menghormati tapi tak ada yang berani mengoyak batas.

Maka, satu hal yang mungkin dapat kita elaborasi adalah, arogansi tanpa argumentasi melahirkan dogma; sementara kerendahan hati tanpa klaim melahirkan kebisuan. Ilmu yang hidup berada di tengah keduanya: cukup sombong untuk menantang dunia, tapi cukup jujur untuk mengoreksi diri.

Kerendahan hati mungkin baik bagi jiwa, tapi tidak selalu berguna bagi ilmu.
Ilmu tidak menuntut kita untuk rendah hati, melainkan untuk berani. Karena tanpa arogansi yang terukur, tidak akan ada tesis baru, teori baru, atau keberanian untuk mengatakan: semua orang salah, dan inilah pandanganku.

Maka, dalam diskursus ilmiah, kerendahan hati bisa menjadi kebajikan personal, tetapi arogansi intelektual adalah keharusan epistemik. Ia bukanlah sebuah dosa ilmiah, tetapi justru tanda kehidupan pergulatan pengetahuan itu sendiri.

Muhammad Rizky HK

Akademisi UIN Mataram

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button