Eksistensialisme à la Ibrahim

Dalam dunia eksistensialisme yang dipenuhi kegelisahan, kecemasan, dan absurditas, barangkali tidak ada tokoh Qur’ani yang lebih eksistensial dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Bukan Musa yang bergulat dengan moralitas normatifnya. Bukan pula Isa yang menjadi simbol altruisme. Tetapi Ibrahim, yang dengan kapaknya menghancurkan berhala, yang tegar dibakar bara api, dan tunduk khusyuk ketika diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya.
Mari sama-sama membayangkan ini: seorang lelaki tua yang belum memiliki keturunan, tinggal di tengah masyarakat politeistik yang memuja dewa imitasi manusia, lalu tiba-tiba mendapat wahyu untuk menyembelih anak yang telah lama dinantikannya. Absurditas yang bahkan melampaui Sisyphus, si pendorong batu dalam buku Albert Camus.
Sisyphus dikutuk untuk menggelindingkan batu besar ke atas bukit, setiap hampir mencapai bukit, batu kembali menggelinding ke bawah, dan membuatnya harus mengulangi dari awal. Ibrahim? Ia hampir mendorong pisau ke leher anak yang dinantinya, menyembelih sosok yang telah dinanti-nantinya.
Perjalanan Ibrahim ‘alaihissalam akan kita baca bersama melalui teropong eksistensialisme Soren Kierkegaard. Ia mengatakan bahwa individu akan menjalani berbagai tahapan dalam hidupnya (estetis dan etis), sebelum sampai pada puncak pemahaman diri yang sejati; religius.
Dalam tahap estetis, manusia sibuk mencari makna, tapi belum ingin terikat pada komitmen. Hidupnya indah, tapi diselubungi kebosanan dan keinginan untuk melompat pada hal-hal baru.
Ibrahim muda (QS. Al-An’am: 76–79) adalah eksistensialis estetis par excellence. Ia memandangi bintang, lalu bulan, lalu matahari. Ia berkata, “Inilah Tuhanku!” lalu ketika tenggelam, ia mengubah keyakinannya hingga mendapatkan keyakinan yang tak tergeser. Seakan Ibrahim sedang mendedahkan kerancuan politeisme ummatnya dengan gaya-gaya sarkastik
Namun, berbeda dengan Camus yang memilih berdamai dengan absurditas, Ibrahim tidak berhenti di sana. Ia mencari, mempertanyakan, dan bahkan berani “merusak”. Dalam QS. Al-Anbiya: 57–67, ia menghancurkan berhala-berhala kaumnya dan menyisakan yang paling besar. Saat ditanyakan padanya siapa pelakunya? Ia menjawab dengan ironi yang hampir mirip Camusian: “Tanyakan saja pada berhala besar, jika ia bisa berbicara.”
Dalam taham pencarian ini, Ibrahim seakan sedang menertawakan absurditas kaumnya, bukan tanpa maksud yang jelas, ia ingin berpijak untuj melompat pada tahap selanjutnya; Etis.
Setelah estetika pencarian, maka datanglah etika pengorbanan. Ibrahim kemudian menikah, hijrah, dan dikaruniai oleh Allah seorang anak setelah menanti puluhan tahun (QS. Ash-Shaffat: 100–111), dan tiba-tiba, Tuhan mengilhamkan padanya melalui mimpi untuk menyembelih anaknya. Dan karena ia telah mencapai tahap berikutnya: Ia mengikuti perintah Tuhan.
Ini bukan sekadar etika moral masyarakat. Ini etika absurd ala Kierkegaard: “teleologis suspensi etika”, yaitu ketika etika manusia digantung demi tugas ilahi. Ibrahim di sini menjelma menjadi “Knight of Faith“, kesatria iman. Ia tidak menolak absurditas, tapi melompat ke dalamnya. Dalam tahapan etis, individu bertindak berdasarkan komitmen dan dedikasi, mencari kebahagiaan melalui tindakan yang bermakna berdasarkan komitmen yang ia anut.
Bayangkan, Ibrahim dengan tanpa ragu, tanpa mengeluh, tanpa cemas, menceritakan mimpinya pada anaknya , “Hai anakku, aku bermimpi diperintah menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” (QS. Ash-Shaffat: 102). Ini dialog paling halus untuk pembicaraan paling ekstrem. Dalam logika modern, dalam gambaran Kafka: adalah absurditas yang tidak dijelaskan tapi tetap dijalankan.
Kierkegaard mengatakan bahwa tahap terakhir dan tertinggi adalah leap of faith “lompatan iman”. Ibrahim adalah manusia pertama yang benar-benar melompat tanpa tahu apakah ia akan mendarat. Tapi anehnya, dalam lompatan itu, justru ia menemukan makna.
Saat pisau hampir menyentuh leher putranya, Tuhan menggantikannya dengan seekor domba sembelihan. Pada titik ini, eksistensi dan keimanan bertemu dalam puncaknya. Ibrahim tidak hanya secara paripurna “menemukan” Tuhan, ia pula menemukan bahwa makna bukanlah hasil pencarian logis atau estetis, melainkan penyerahan total.
Dalam lensa Camus, mungkin saja Ibrahim melakukan penolakan terhadap absurditas itu. Tapi Ibrahim menolak menyerah. Ia justru menantang absurditas dengan kesadaran penuh dan keyakinan tanpa ragu, Ia tetap berjalan pada garis komitmennya.
Pada titik ini pula, ke-ada-an Ibrahim menjadi otentik, meminjam istilah Heideggerian. Ia tidak dikendalikan oleh “das Man” (keramaian serba-serbi opini sosial), ia menjadi satu dalam makna terdalam dari eksistensinya.
Kierkegaard, Camus, atau Heidegger, tentu saja tidak pernah bertemu dengan Ibrahim, tetapi melalui pembacaan singkat, Ibrahim adalah ilustrasi paling hidup dari semua konsepsi yang mereka gambarkan. Ia bergumul, mencari, menolak, lalu menyerah, bukan karena kalah, tapi karena sadar. Ia tidak menjawab absurditas dengan bunuh diri (Camus), tidak lari ke “kehendak untuk kuasa” (Nietzsche), tidak sembunyi di balik “alat-alat” (Heidegger). Ia hanya memilih untuk… bersujud dan berserah.
Kepekaan kita membaca kisah Ibrahim membawa kita pada satu titik, bahwa sebagai individu, hidup seharusnya bagi kita bukanlah setumpuk masalah yang harus diselesaikan, bukan pula sesuatu yang harus dihabiskan dengan kecemasan, kebimbangan, dan keraguan, lebih dari itu hidup adalah sesuatu yang harus dimaknai, dan pemaknaan sejati dari hidup adalah mengalami dan menjalaninya dengan penuh “eksistensial”.




