Esai
Trending

Hak untuk Lambat

Ada hari-hari di mana aku merasa seperti tab browser yang tak pernah ditutup. Terbuka semua, tapi tak satu pun sungguh kubaca. Pikiran jadi semacam ruang terbuka yang dipenuhi jendela tak selesai seperti hidup yang terus buffering meski sinyalnya penuh.

Waktu kecil, aku diajari untuk menunggu giliran. Sekarang, siapa yang paling cepat mengetik, dia yang didengar. Dunia ini berubah jadi antrean yang terus saling serobot, dan kita semua jadi kasir yang tak sempat bernapas.

Sampai-sampai, aku lupa rasanya menyelesaikan satu hal tanpa terdistraksi oleh hal lain. Membaca satu halaman penuh tanpa cek ponsel jadi kemewahan. Fokus berubah jadi otot yang lama tak dilatih, dan sekarang ia lemas, gemetar, gampang menyerah.

Ada notifikasi di kepala bahkan ketika ponsel sudah dimatikan. Bayangan pesan, suara panggilan, angka-angka merah yang tak pernah turun. Kita hidup dalam sistem alarm yang tak kenal jeda, seperti dijaga oleh kecemasan yang dibungkus produktivitas.

Kadang aku ingin kembali ke sore yang sederhana: berjalan pulang tanpa earphone, mendengar suara sepeda lewat, menatap bayangan sendiri di aspal basah. Dulu, kehadiran adalah pengalaman fisik. Sekarang, eksistensi hanya sah kalau terlihat aktif.

Hidup ini seperti membuka banyak tab karena takut ketinggalan, tapi tak satu pun membuka ruang untuk pulang. Kita memanggil ini multitasking, padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah ketakutan untuk duduk diam bersama diri sendiri.

Dan barangkali yang kita butuhkan bukan motivasi baru, tapi keberanian untuk menutup tab yang tak lagi berguna. Menyisakan satu jendela penuh: hidup yang tak multitugas, tapi cukup. Cukup sunyi. Cukup lambat. Cukup manusia.

Tapi dunia ini alergi terhadap kelambatan. Jika kau berjalan terlalu pelan, orang akan menyangka kau tersesat. Padahal mungkin kau hanya sedang memilih untuk hadir, tidak sekadar lewat. Tapi kehadiran kini dianggap hambatan. Semua harus cepat, semua harus sigap, bahkan ketika tak tahu sedang ke mana.

Mereka bilang ini era koneksi, tapi yang kita alami lebih mirip invasi. Batas antara ruang publik dan privat makin kabur. Tempat tidur jadi kantor, kamar mandi jadi ruang rapat, dan waktu makan siang hanyalah selingan sebelum panggilan berikutnya. Kita tak lagi hidup kita tersedia.

Dan dalam semua ketersediaan itu, justru muncul kekosongan yang aneh. Seperti ruangan besar yang penuh lampu tapi tanpa isi. Kita terus tersenyum dalam layar, tapi lupa bagaimana caranya menangis tanpa merasa bersalah. Dunia ini mendewakan kesiapan, tapi tak memberi tempat bagi rapuh.

Aku pernah berpikir bahwa kebebasan adalah bisa memilih apa saja. Tapi semakin ke sini, aku merasa kebebasan justru terletak pada kemampuan untuk menolak. Menolak notifikasi. Menolak balas cepat. Menolak jadi bagian dari sistem yang menilai harga diri dari seberapa sibuk kau terlihat.

Dan di akhir hari, aku ingin punya ruang yang tak perlu dijelaskan. Tempat di mana aku boleh lambat, boleh sunyi, boleh tidak berguna di mata algoritma. Sebab hidup bukan performa. Dan menjadi manusia, kadang cukup hanya dengan merasa bukan membuktikan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button