Susahnya Memiliki Rasa “Ingin Tahu” di Zaman “Serba Tahu”

Oleh : Muhammad Rizky HK.
Dalam sebuah diskusi membedah buku “al-Islam wa al-Musykilat al-Syabab” karya Syaikh Muhammad Ramadhan al-Buthiy, yang saya ikuti beberapa waktu yang lalu, muncul sebuah pertanyaan menarik. Salah seorang mahasiswa bertanya bagaimana cara kita membangun rasa ingin tahu? Sebuah pertanyaan yang sepertinya sepele tapi perlu dan penting untuk mendapatkan jawaban yang jelas.
Memang menjadi sulit bagi kita memunculkan rasa ingin tahu dalam kondisi kita bisa mengetahui segalanya. Semuanya sudah tersedia di Internet. Mulai dari cara dan teknik menyelesaikan pekerjaan rumah tangga (DIY) hingga cara mengelola negara, semua sudah tersedia.
Dosen dan cendekia meringkas konsep dan teori lalu menyebarkannya melalui saluran-saluran digital, sehingga jarak manusia dan pengetahuan terkikis. Para pakar membagikan hasil olah expertise-nya dengan cuma-cuma di layar dan gawai manusia.
Lantas untuk apa dan bagaimana memiliki rasa ingin tahu, jika semua secara mudah dapat diketahui?
Bagaimana mengetahui apa-apa yang “belum” atau “tidak” kita ketahui?
Permasalahan laten yang muncul kemudian adalah overload informasi. Kita merasa cukup puas dengan mengetahui, tanpa mendalami dan memahami, apalagi memverifikasi surplus informasi yang tersimpan dalam database pengetahuan kita.
Dalam gejala budaya yang lebih dalam. Di era yang konon “serba tahu” ini, manusia sering kali merasa cukup dengan “tahu”tanpa benar-benar memahami. Kita bukan lagi mencari pengetahuan, melainkan hanya sekedar sebagai konsumen informasi. Suatu gejala yang muncul dari dimulainya Post-Modernisme, yang kemudian menjelma menjadi Post-Truth. Tak ada lagi monopoli narasi besar yang mendominasi ruang-ruang wacana.
Di dunia posmodern, orang tidak lagi mengejar “kebenaran tunggal”, tapi lebih tertarik pada “kisah yang terasa benar”. Dalam konteks digital, hal ini menjelma menjadi dunia media sosial di mana setiap orang bisa membentuk narasi sendiri, dan “kebenaran” ditentukan oleh jumlah suka dan bagikan, bukan oleh argumentasi.
Akibatnya, rasa ingin tahu bergeser dari mencari makna menjadi memburu sensasi. Kita tidak lagi ingin tahu mengapa sesuatu benar, melainkan bagaimana sesuatu bisa viral.
Sensasi “tahu” inilah yang membunuh dan mencabik-cabik rasa ingin tahu. Kita tidak lagi merasa perlu membaca berjilid-jilid buku untuk menulis satu artikel; Cukup perintahkan Chat GPT untuk menuliskannya buat kita.
Jadilah maka jadilah.
simsalabim abrakadabra.
Maka menghadapi persoalan ini, sudah saatnya kita kembali kepada kepolosan pribadi, mencoba tidak sekedar tahu tapi memahami apa yang diketahui, membangun apa yang disebut sebagai hermeneutics of suspicious, kecurigaan atas apa yang kita anggap telah kita ketahui. Dengan kepolosan, kita dapat melepaskan diri dari selubung ignorance yang membuat kita abai memeriksa isi kepala kita sendiri. Dan hanya dengan suspicious, kita legowo membongkar lebih dalam apa yang kita anggap telah kita ketahui.
Setelahnya perlu juga bagi kita membangun intellectual confidence. Kepercayaan terhadap hasil pembacaan kita sendiri, agar tangguh dan tegak menghadapi koreksi, kritik dan polemik. Kepercayaan diri terhadap apa yang diketahui hanya akan muncul jika itu lahir dari proses olah pikir yang dialektik dan menubuh dalam diri kita. Bukan produk instanisasi yang kita kutip dan comot dari sumber artifisial yang tidak jelas,
Hanya dengan itulah, kita tidak tertipu oleh kecerdasan artifisial yang melenakan, bahkan menyesatkan seperti google maps yang seringkali mengarahkan kita pada rute yang salah.
Membangun rasa ingin tahu di zaman serba tahu berarti melawan arus deras berbagai kemudahan. Yang menuntut keberanian kita untuk menunda kepastian, untuk meragukan “pengetahuan instan” yang diberikan layar. Jalan pintas yang kemudian kita anggap pantas.
Dalam dunia yang serba tahu, keingintahuan sejati mungkin adalah bentuk perlawanan paling manusiawi, perlawanan untuk tetap berpikir, bertanya, dan merasa heran. Bahkan mungkin melawan hasrat untuk ingin dianggap serba tahu.




