Esai

Membela Devil’s Advocate di dunia Kampus

Saya teringat Guru kami Prof Noorhaidi Hassan dan Alm. Prof Minhaji. Beliau beliau selalu berpesan di kelas : “Dalam dunia keilmuan, syarat minimal menjadi intelektual adalah berani merasa benar, dan syarat wajib tetap ilmiah adalah siap terbantahkan.”

Menganggap arogansi intelektual sebagai “logika setan” adalah kekeliruan epistemologis dan pereduksian konseptual. Asumsi ini mencampuradukkan ranah moral–spiritual (kesombongan sebagai dosa) dengan mekanisme epistemik yang diperlukan agar dialektika ilmiah bekerja. Dalam ruang ilmiah, merasa benar adalah keyakinan sementara yang membuka verifikasi–falsifikasi; maka yang berbahaya bukan keberanian untuk “arogan”, melainkan anti terhadap koreksi. Karena itu, arogansi akademik, yang dipahami sebagai dorongan diferensiasi dan keberanian mengajukan klaim tegas, perlu dibela sebagai energi penggerak perdebatan yang hidup.

Demikian juga, menautkan “perasaan unggul” pada kisah Iblis lalu menyimpulkannya sebagai “logika setan” adalah asumsi yang cenderung memukul rata keberanian ilmiah yang mengajukan klaim tegas sebagai sesuatu yang berbahaya. Padahal tanpa dugaan awal bahwa argumen kita tepat, klaim tidak akan pernah naik ke meja uji. Saya teringat dengan istilah devil’s advocate, yang justru dalam konteks ini metodologis. menyusun counter-case agar asumsi, rancangan, dan inferensi ditempa oleh standar bukti, replikasi, dan sanggahan dari perspektif yang lain. Arogansi akademik yang dibela di sini adalah kepercayaan diri epistemik yang siap diuji habis-habisan, bukan pemutusan diri dari koreksi atau otoritas nilai.

Dengan demikian, “Tauhid keilmuan” atau fanatisme keilmuan (yang mungkin dipandang sebagai arogansi) perlu dijaga sebagai keutuhan orientasi ilmu, yaitu komitmen pada kebenaran dan konsistensi lintas-disiplin, bukan monometodologi yang menyeragamkan pendekatan. Secara institusional, termasuk di FUSA, itu berarti: menginstitusikan penyanggah dalam seminar, mewajibkan deklarasi falsifikasi dalam proposal, melakukan red-team pada silabus untuk mencegah monokultur rujukan, memberi kritik pada narasi-narasi mainstream, serta memberi nilai pada replikasi dan temuan negatif. Dengan kerangka ini, arogansi akademik menjadi disiplin epistemologis yang terukur. Tajam dalam klaim, terbuka pada sanggahan, kritik, bahkan pembatalan.

Wallahu a’lam.

M.A.P.

Akademisi, Dosen Filsafat Politik UIN Mataram. Peneliti di Paranawa Institute. Satiris, Esais, Pemancing Laut.

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button