Esai

Menyimpan Diri dalam Dunia: Meditasi Filosofis tentang Fragmen, Hasrat, dan Keabadian

Lord Voldemort, antagonis dalam sebuah novel 7 seri karya J.K Rowling, dikenal bukan hanya karena kekuatan sihir gelapnya yang menyeramkan, tetapi juga karena tindakan-tindakannya yang menarik untuk dianalisis; Ia membagi jiwanya ke dalam benda-benda mati; Horcrux. Pembacaan sepintas bisa saja menyimpulkan bahwa tindakan ini tidak lain adalah strategi untuk “mengabadikan diri”. Tetapi dalam pembacaan melalui psikoanalisis Jacques Lacan, tindakan tersebut dapat menjelaskan sesuatu yang jauh lebih dalam, yakni usaha tragis dari subjek untuk memenuhi kekurangan struktural dalam dirinya sendiri.

Lacan menyatakan bahwa subjek manusia tidak pernah utuh. Ia adalah hasil fragmentasi antara je (aku yang sadar) dan moi (representasi diri di ranah simbolik), serta ketegangan yang ajeg antara bahasa dan keinginan. Lacan menegaskan; a person does not speak about the subject; the id speaks about it menyatakan bahwa kesadaran bukanlah pusat kendali yang absolut, tetapi merupakan bagian dari sistem representasi yang terbelah.

Subjek dalam tinjauan ini merupakan entitas terpecah (split subject), yang dari keterpisahan itu timbul hasrat: dorongan untuk selalu menemukan kembali bagian pecah yang hilang, sesuatu yang tak pernah benar-benar dapat dimiliki.

Tindakan Voldemort memecah jiwanya ke dalam benda-benda magis dapat dibaca sebagai aplikasi literal dari konsep Lacan mengenai objet petit a, yaitu objek kecil dari hasrat, serpihan yang hilang dari subjek dan menjadi center of the gravity dari identitas diri manusia . “The objet a is something from which the subject, in order to constitute itself, has separated itself off as organ” (Lacan, 1978, p. 268). Kehilangan tidak lagi dimaknai bukan sebagai kecelakaan, melainkan justru sebagai syarat dari lahirnya subjek. Sosok Voldemort, dalam upayanya memiliki keabadian dan menampik kematian, justru membekukan jiwa dalam external structure dengan harapan bisa menghindarkannya dari kesementaraan. Namun hasrat memilikinya, justru akan membinasakan dirinya, karena dalam perspektif Lacanian, objek itu “only exists insofar as it is missing” (McGowan, 2021).

Namun di luar sosok Voldemort, parting ourself ke dalam dunia juga bisa dikonstruksi secara positif plus kreatif. Kita semua pada tingkat tertentu, meletakkan fragmen (pecahan) diri kita ke dalam hal-hal ‘di luar diri’ seperti dalam tulisan, lukisan, kenangan, relasi, atau objek-objek simbolik yang memiliki makna tertentu bagi diri kita . Kita menulis bukan hanya untuk dibaca dan didengar, melainkan pula untuk mengabadikan apa yang tak dapat tersampaikan secara langsung. Kita menyimpan foto dan gambar bukan semata sebagai dokumentasi, melainkan sebagai bagian dari diri dan keintiman yang kita sisipkan di masa lalu agar waktu tidak bisa membuatnya punah. Bahkan dalam hal mencintai seseorang, kita seringkali secara tidak sadar menyisipkan sebagian dari ‘identitas’ diri kita ke dalam orang lain, bukan untuk tujuan ‘meleburkan diri’ tetapi untuk ‘memperluas makna diri’ secara simbolik.

Dalam perspektif Lacanian, segala bentuk dari partisipasi simbolik ini merupakan respons terhadap adanya ‘kekurangan’. Hasrat yang dalam terminologi Lacan, digerakkan oleh kekosongan yang struktural, oleh kekosongan yang justru membuat kita terus bergerak, mencipta, dan mencintai. Objet petit a, kata Lacan, adalah “semblance of being”, bukan sesuatu yang sungguh ada, melainkan kemunculan semu yang memberi makna pada keberadaan (Fink, 1995). Justru sebab objek itu tidak pernah dapat dimiliki secara paripurna, kita terdorong untuk menulis puisi, membuat film, menjalin relasi, dalam rangka mengisi dunia dengan simbol, bukan karena kita telah ‘utuh’ sepenuhnya, melainkan kita selalu sedang ingin “menjadi”.

Jika Voldemort membagi jiwanya untuk menghindar dari kefanaan dan kematian, manusia menyimpan jiwanya untuk dapat hidup lebih ‘utuh’. Untuk meresap ke dalam dunia, agar bagian dari dirinya tetap eksis dalam ingatan, dalam tulisan, puisi, dan dalam bentuk-bentuk kontinuitas lain yang bisa melampaui dirinya. Fragmentasi, yang dalam satu sudut terlihat sebagai kehancuran, justru menjadi mediator penciptaan diri yang baru.

In the last words, dalam dunia yang tidak ajeg dan terus berpisah berbelah, manusia justru akan menemukan kenyamanan bukan pada keutuhan dirinya, melainkan pada kehadirannya yang terpecah, terfragmenasi dalam serakan yang penuh makna. Manusia bukan terpecah kehilangan arah, tapi pecahan-pecahan itu saling terikat dan saling mengisi. Dalam fragmen itulah, kita menyimpan jiwa kita, dan menjadikannya hidup, berulang kali, dalam setiap simbol yang kita tinggalkan sebagai jejak di dunia ini

Pertanyaannya kemudian adalah, kemana dan di mana, kita akan membagi dan menyimpan diri kita?

Muhammad Rizky HK

Akademisi UIN Mataram

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button