Kehendak-Kehendak Manusia Politik: Menggali Pikiran Hegel, Marx hingga Muthahhari

Oleh : M.A.P.
Setiap kali seseorang melangkah keluar rumah, ia tidak hanya berpindah dari ruang privat ke ruang publik. Ia membawa harapan, kegelisahan, dan rencana yang tidak selalu jelas bahkan bagi dirinya sendiri. Di kedalaman diri itu, ada tiga kehendak yang saling berkaitan. Bahwa manusia berkeinginan untuk hadir di hadapan orang lain, berkeinginan agar suaranya punya daya pengaruh perubahan, dan berkeinginan agar apa yang ia lakukan tidak berhenti bersama tubuhnya, tetapi berlanjut melampaui hidupnya.
Gambaran pertama tentang manusia sebagai makhluk yang mencari pengakuan kuat terasa ketika membaca Hegel, terutama dalam Phenomenology of Spirit. Di sana, Hegel menunjukkan bahwa “aku” tidak lahir sendirian. Ia terbentuk melalui tatapan dan respons orang lain. Pertarungan tuan–hamba yang terkenal itu, pada dasarnya, adalah cerita tentang manusia yang rela mengambil risiko demi diakui sebagai seseorang yang bernilai. Dari sini, kita bisa melihat secara mendasar bahwa manusia ingin nampak sebagai subjek, bukan sebagai bayangan. Ia ingin disapa, didengar, dan diakui keberadaannya dalam ruang bersama.
Dalam Philosophy of Right, Hegel menambahkan satu lapisan penting. Kebebasan, bagi manusia, tidak berhenti pada perasaan di dalam hati. Kebebasan menuntut bentuk yang nyata yaitu berupa tindakan, aturan, dan kelembagaan. Di titik ini, kehadiran tidak cukup hanya terlihat; ia perlu menjelma menjadi peran dan tanggung jawab. Di sinilah kita menemukan bahwa manusia selalu ingin unggul berpengaruh di dalam ruang sosialnya. Kehendak tersebut tidak berarti semata-mata haus kekuasaan, melainkan dorongan untuk ikut menata dunia kecil di sekitarnya, seperti keluarga, komunitas, bahkan negara. Politik, dalam arti ini, adalah cara manusia menjahit antara kebebasan asalinya sembari menata kehidupan bersama.
Namun Hegel juga menyadarkan bahwa manusia tidak hidup di ruang hampa. Ia selalu bergerak di dalam arus sejarah. Sejarah, bagi Hegel, adalah perjalanan panjang di mana manusia perlahan belajar apa artinya hidup dengan spirit kebebasan. Manusia selalu tidak puas hanya menjadi penumpang waktu. Ia ingin hidupnya punya makna di dalam garis panjang perjalanan umat manusia. Ia ingin dikenang bukan hanya sebagai pemilik sesuatu, tapi sebagai orang yang ikut menyumbang pada perjalanan sejarah yang terus-menerus menuju realitas sosial-kemanusiaan yang final, atau apa yang Hegel istilahkah sebagai ‘kawasan roh’ yang absolut.
Jika Hegel menyorot kebutuhan akan pengakuan, kebebasan, dan sejarah, Marx menambahkan sisi lain yang lebih dramatis. Melalui pembacaan Erich Fromm dalam Marx’s Concept of Man (diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai Gagasan tentang Manusia), kita melihat betapa mudahnya tiga kehendak kemanusiaan itu dilumpuhkan oleh cara kerja masyarakat modern. Marx, sebagaimana dijelaskan Fromm, tidak hanya mengkritik pembagian kelas atau upah yang tidak adil. Ia menunjukkan bahwa manusia bisa kehilangan rasa hadir ketika dirinya diperas menjadi sekedar “tenaga kerja”. Ia juga kehilangan daya pengaruh ketika kerja kreatif dipecah menjadi tugas-tugas kecil yang membosankan. Bahkan keinginan melampaui pun menyempit ketika masa depan hanya dibayangkan sebagai promosi jabatan, gelimang otoritas, kenaikan gaji, cicilan lunas, atau jaminan pensiun. Maka, manusia yang berpikir struktural, atau memakai pola-pola struktural dalam menjalani interaksi dalam kehidupannya, adalah orang yang secara hakikat mengalienasi diri dari keutamaan dan martabat dirinya sendiri dan orang lain sebagai manusia politik.
Fromm membaca Marx sebagai seorang humanis: manusia adalah makhluk yang ingin bekerja secara bermakna, mencintai, dan terhubung dengan sesama. Ketika sistem ekonomi membuat kerja menjadi keterpaksaan, relasi menjadi transaksi, dan masa depan hanya deretan angka, maka yang rusak bukan hanya ‘dompet’ tapi juga struktur terdalam dari kehendak manusia. Politik, dalam kaca mata ini, tidak bisa dilepaskan dari perjuangan melawan keterasingan. Membela kemanusiaan berarti memulihkan ruang agar orang bisa hadir dengan bermartabat, berkarya dengan wajar, dan menata masa depan tanpa rasa takut (ataupun jengkel) yang terus-menerus.
Dari jalur lain, Muthahhari, terutama dalam bukunya Society and History (dalam bahasa Indonesia sering disebut Masyarakat dan Sejarah), mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar pergerakan barang dan uang. Ia menolak pandangan yang menganggap ekonomi sebagai satu-satunya penggerak sejarah. Bagi Muthahhari, faktor iman, akhlak, kepemimpinan, dan nilai-nilai spiritual sama pentingnya dengan faktor materi. Manusia, dalam pandangannya, adalah makhluk yang akan dimintai pertanggungjawaban. Ia tidak hanya menjawab di hadapan sejarah, tetapi juga di hadapan Tuhan.
Di sini, kehendak transendensi atau keinginan pelampauan yang dimiliki manusia menjadi lebih jelas. Manusia bukan sekadar ingin dikenang, tetapi ingin perjuangan hidupnya menyambung kepada kebaikan yang lebih luas, yaitu kepada generasi berikutnya, menciptakan masyarakat yang lebih adil, dan (terutama sekali untuk) kehidupan setelah mati. Politik, jika dibaca dengan kacamata Muthahhari, adalah bagian dari ibadah: cara manusia mengelola amanat kekuasaan, keadilan, dan kebersamaan dalam kerangka tanggung jawab yang tidak berakhir di liang kubur.
Jika pikiran Hegel, Marx dan Muthahhari kita satukan (meski dalam langit dan aras yang cukup berbeda), tampaklah manusia politik sebagai sosok yang rapuh namun sekaligus mulia. Ia selalu mencari tempat di mata sesama, ia ingin suaranya punya keberdayaan, dan ia tidak rela hidupnya habis hanya untuk memuaskan kebutuhan yang lewat begitu saja. Tugas pemikiran politik bukan sekadar merancang sistem dan prosedur, tetapi menjaga agar kehendak-kehendak asali ini tetap hidup secara sehat. Bahwa manusia, di tengah hiruk-pikuk pembagian kekuasaan dan pelaksanaan tugas-tugas struktural, kita diingatkan bahwa inti politik, pada akhirnya, adalah menjaga kemanusiaan: bagaimana manusia bisa hadir tanpa teralienasi, manusia bisa berpengaruh tanpa harus menindas, dan manusia bisa meng-exist-kan diri melampaui ruang dan waktu tanpa melupakan bahwa ia tetap hamba Tuhan di muka bumi.




