Perihal Arogansi Intelektual

Oleh : Purnami Safitri.
Pada minggu terakhir oktober ini, seorang kolega, Zukhrufatul Jannah mengunggah sebuah ulas rasa yang berjudul :Dekonstruksi “Logika Setan” dalam Otoritas Penafsiran: Menyingkap Semangat Kesetaraan dari Cahaya Tauhid.” Tulisan singkat kolega tersebut, pada dasarnya menggugah karena Ia menguraikan hasil ulasan kuliahnya dari Prof. Sahin Acikgoz dalam mata kuliah “ Islam dan Feminisme.” Sembari saya menikmati asupan pengetahuan tersebut, tulisan tersebut kemudian direspon oleh Senior Prof Maimun melalui opini singkat berjudul “Merasa Diri Unggul: Refleksi Mendalam dari Logika Setan“. Menariknya, tulisan Prof. Maimun direspon dengan esai pendek berjudul “Membela Devil’s Advocate di dunia Kampus” oleh Alwi Parhanudin, yang secara singkat berargumen bahwa menganggap arogansi intelektual sebagai ‘logika setan’ adalah kekeliruan epistemologis dan pereduksian konseptual yang mencampuradukkan ranah moral-spiritual dengan mekanisme epistemik. Singkatnya, Bung Alwi berargumen bahwa dalam dunia ilmiah, merasa benar adalah keyakinan sementara yang membuka verifikasi-falsifikasi; artinya seorang intelektual harus memiliki sikap percaya diri akademis, sembari terbuka kritik, sanggahan sebagai media uji asumsi, teori, metodologi dan lain sebagainya. Arogansi akademik tidaklah sama dengan anti terhadap koreksi dan kritik. Begitu kira-kira argumen Bung Alwi.
Kala kita memahami makna arogansi dengan apa adanya, dan sebagai sebuah keburukan moral (moral vice) manusia, argumentasi Alwi membuka pertanyaan, apakah benar arogansi tidaklah monobentuk? Apa batas arogansi dan kepercayaan diri? Apakah seseorang yang percaya diri akan kelebihan, dan keutamaan argumentasinya ataupun ia percaya diri karena ia memahami secara aktif akan sesuatu, bisa dikatakan arogan? Apakah seorang yang arogan juga bisa dikatakan dogmatis? Apakah arogan adalah murni keburukan moral manusia ataukah ia keadaan psikologis yang muncul akibat pengkondisian lingkungan? Jika seseorang bergelar Doktor ataupun Professor merasa argumentasinya lebih valid dan tepat daripada seseorang yang bukan Professor dan Doktor atau seseorang yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, apakah professor tersebut juga dapat dikatakan arogan secara intelektual? Pertanyaan-pertanyaan ini kiranya menyimpulkan sementara persetujuan saya terhadap nada kritikal Alwi yang menyebutkan bahwa kita kerap memahami makna arogansi intelektual secara sederhana dan reduksionis.
Pertama, marilah memahami arogansi adalah bagian yang inheren dalam diri manusia. Ia bukanlah suatu keburukan yang berasal dari luar, atau yang secara ekslusif dimiliki oleh Iblis ataupun Setan. Dalam pemahaman Hobbessian misalnya, dalam konteks state of nature, manusia adalah makhluk yang dipenuhi dengan sifat keburukan, jahat, tamak, dan sombong. Bagi Hobbes, karakter ‘jahat’ ini penting untuk menjamin survavilitas manusia. Dalam konteks ini, arogansi bisa menjadi ‘penolong’ manusia dalam ketiadaan hukum dan sebagai sebuah strategi bertahan hidup.
Dalam konteks neuroscience, Richard Paul dan Linda Elder (2004) menyebutkan bahwa manusia adalah self-deceiving animal, dimana penipuan, kemunafikan, kepalsuan, delusi, hipokrisi adalah bagian mendasar dari sifat manusia dalam keadaan ‘alaminya.’ Sayangnya, pendidikan dan pengaruh sosial menjadikan delusi, hipokrisi, kemunafikan, dan lain sebagainya tidak hilang, namun justru menjadikannya lebih canggih, halus, dan sulit dikenali. Dengan demikian, seorang yang telah berpendidikan juga tak bisa mengelak adanya potensi menipu, hipokrit, ataupun arogan. Hanya saja, kesombongan, dan hipokrisi seorang berpendidikan kerap bersifat ‘subtle’ atau tersembunyi atau lebih halus. Dan tentu saja, Paul dan Elder menegaskan bahwa dalam setiap kebudayaan ataupun agama, termuat ajaran atau pandangan yang ‘merasa’ istimewa dan benar baik dari aspek keyakinan, praktik dan nilai. Dengan demikian, arogansi yang dimaknai secara sederhana sebagai suatu sikap dan pandangan superioritas juga ‘diajarkan’ dalam agama dan kebudayaan.
Namun, argumentasi bahwa agama dan kebudayaan memiliki pandangan superioritas ini mendapat sanggahan dari Peneliti psikologi Gregg dan Sedikides (2016) menyatakan bahwa arogansi intelektual berakar dari mental materialism atau materialisme mental dan ideological territoriality. Dalam pandangan Gregg dan Sekisedes, manusia secara intuitif akan menganggap nilai yang mereka miliki sebagai sesuatu yang berharga yang harus mereka pertahankan. Secara formal, manusia memperlihatkan dua kecenderungan, yakni mental materialisme (MM)yang dimaknai sebagai keyakinan positif terhadap suatu nilai, karena nilai itu ia miliki. MM lebih mirip dengan endowment effect yakni seseorang akan menilai barang miliknya memiliki nilai lebih tinggi daripada milik orang lain. Sedangkan ideological territoriality adalah bentuk perkembangan alami dari materialisme mental yang melibatkan pendekatan yang lebih konfrontatif; keyakinan untuk melindungi, membela, dan menyebarkan dan berupaya memenangkan keyakinan tersebut, alih-alih menerima kebenaran atau nilai yang lain. Dengan demikian, secara naluriah, manusia memperlakukan keyakinannya seperti milik pribadi (mental materialism) dan melindunginya seperti wilayah kekuasaan (ideological territoriality). Dengan kata lain, arogansi intelektual adalah warisan evolusioner, hasil dari insting mempertahankan diri dan wilayah.
Allesandra Tannesini, seorang Professor Filsafat dari Universitas Cardif mengunggkapkan bahwa arogansi intelektual merupakan fenomena umum sekaligus bervariasi (2016). Studi mengenai arogansi intelektual telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu, bahkan studi mengenainya tidak hanya dalam lingkup filsafat etis namun juga menjadi bahan kajian dalam studi psikologis. Meski demikian, menurut Tannesini, studi mengenai arogansi intelektual ini tidak cukup mendapat perhatian filosofis secara mendetail. Dalam pandangannya, arogansi secara sederhana dilihat sebagai vice atau keburukan yang hadir karena ketiadaan virtue atau kebajikan. Padahal yang mesti dipertanyakan bukanlah vice vs virtue per se tetapi juga bagaimana struktur dominasi dan subordinasi yang menentukan nilai yang bermuatan vice dan virtue tersebut.
Dalam studinya mengenai arogansi intelektual, Tannesini membedakan dua bentuk arogansi, yakni haughtiness (superbia) dan arogan. Haugty, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia merupakan sinonim dari kata sombong, atau bermakna angkuh. Karena tidak adanya padanan kata yang tepat untuk haughty, penulis akan tetap menggunakan haughty atau superbia untuk merujuk bentuk kesombongan yang pertama yang disebut oleh Tannesini.
Superbia, adalah bentuk arogansi yang berkarakter inter-personal yang dimaknai dengan sikap seseorang terhadap karakter intelektualnya sendiri yang termanifestasi dalam bentuk sikap atau pandangan yang merendahkan orang lain. Dengan kata lain, superbia atau haugtiness tidaklah sama dengan menganggap diri lebih unggul secara intelektual, namun lebih merujuk pada sikap yang merendahkan dan tidak hormat serta merasa tidak terikat dengan tanggung jawab untuk mendengar orang lain, atau bahkan merasa pernyataannya bersifat otoritatif dan menolak pandangan atau pendapat yang mungkin bersifat kontradiktif. Superbia menganggap dirinya memiliki privelese untuk didengar, dipatuhi namun menolak untuk mendengar orang lain karena menganggap yang lain lebih lebih inferior dibanding dirinya. Superbia bukan hanya sekadar psychological trait namun juga suatu strategi. Superbia dapat termanifestasi dalam sikap pengabaian (ignorance), silencing (pembungkaman), intimidasi, humiliation, dominasi dan subordinasi pihak lain. Mengabaikan seseorang yang sedang berbicara atau berargumen, menyuruh diam, menginterupsi, atau mengambil hak untuk berbicara terlebih dahulu ataupun menguasai bagian waktu yang tidak proporsional merupakan sikap yang merujuk pada haugtiness. Superbia atau haugtiness yang dilakukan melalui locutionary silencing (pembungkaman melalui pengabaian atau ancaman)akan menyebabkan intellectual timidity atau ketakutan atau keragu-raguan dalam berpikir dan menyatakan pendapat secara intelektual karena ketakutan akan penghinaan (humiliation), yang kemudian akan melanggengkan subordinasi dan dominasi terhadap pihak lain (servility of others). Dengan demikian, superbia adalah mekanisme pengabaian dan dominasi yang menyebabkan kelompok subordinat (less powerful) mengalami ketertinggalan dalam aspek epistemik (epistemic disadvantage).
Di sisi lain, arogansi bentuk kedua atau disebut arogansi menurut Tannesini adalah bounded up with delusional wishful thinking atau terkait dengan pola pikir yang delusional, penuh harapan semu. Seorang yang arogan akan memilih apa yang ingin ia percayai, meski keyakinan itu tidak memiliki dasar atau bukti. Tannesini menegaskan bahwa perasaan superior ataupun merasa superior secara intelektual tidak selalu menjadi gejala atau indikasi arogansi (symptoms of arrogance). Misalnya saja seseorang bisa saja merasa superior akan pengetahuan yang dimilikinya dan merasa lebih berkualifikasi dalam bidang tertentu tidaklah dapat dikatakan sebagai karakteristik arogan. Dalam konteks ini, seorang ilmuwan yang bersikeras akan argumentasinya dan percaya diri akan pengetahuannya, tidak dapat didefinisikan sebagai sikap arogan, tetapi lebih pada tersesat (misguided) karena kesimpulannya yang salah akibat, misalnya kesalahan metodologis yang dilakukannya.
Salah satu ciri utama seseorang yang arogan adalah kegagalannya berkomitmen terhadap akuntabilitas; dimana ia menolak menunjukkan bukti atau terlibat dalam debat rasional yang mendukung keyakinan superioritasnya. Maka, seorang yang arogan pada dasarnya menunjukkan bentuk ketidakhormatan (disrespect) terhadap dirinya sendiri karena kegagalannya membangun pernyataan atau argumentasi asertif yang epistemik. Dengan demikian, seorang yang arogan menolak kapasitas dirinya menjadi informan yang reliable dan agen epistemik. Seorang yang arogan akan terjebak dalam dunia yang delusional.
Dengan demikian, perbedaan yang mencolok antara superbia dan arogan adalah ada atau tidaknya manisfestasi sikap yang meremehkan, merendahkan orang lain. Seorang yang arogan sibuk dalam dunia delusinya dan menolak terlibat dalam perdebatan epistemik yang rasional. Namun keduanya dapat saling terkait, seorang yang superbia memiliki kecenderungan arogansi, namun seseorang yang arogan tidak secara otomatis menjadi superbia. Sebagaimana yang diyakini Gregg dan Sedikedes, Tannesini juga berargumen bahwa superbia dan arogansi dapat menjadi strategi seseorang untuk melindungi kepercayaan dirinya.
Namun argumentasi Tannesini masih meninggalkan celah, apakah seseorang yang sangat percaya diri dan bertahan pada suatu asumsi dapat dikatakan arogan secara intelektual? Apakah seseorang yang terlalu percaya diri akan kapasitasnya tanpa dapat memenuhi bukti mengenainya, secara otomatis dikatakan arogan secara intelektual? Callahan (2025) menyebutkan bahwa arogansi intelektual tidak dapat disamakan dengan overconfident belief resilience atau ketahanan keyakinan yang berlebihan karena rasa percaya diri yang terlalu tinggi.
Menjadi resilience terhadap suatu nilai tidaklah menjadikan seseorang sebagai intelektual yang arogan, ada beberapa nilai yang mesti dipegang teguh dan dipercayai secara tangguh (resilience). Nilai-nilai moral etis seperti kesetaraan, kemerdekaan, kebebasan manusia merupakan basis peradaban sepatutnya kita yakini (resilience to belief). Sebaliknya Callahan menyebutkan bahwa kita juga mesti hati-hati menjunjung intellectual humility atau kerendahan hati intelektual yang bermakna kebersediaan menerima kemungkinan kelemahan dan kesalahan sendiri, dan menerima kebenaran dari orang lain. Intelectual humility jika dipahami sebagai kesiapan umum merevisi keyakinan orang lain, maka ia bisa sangat berbahaya yang menyebabkan penerimaan suatu kebenaran yang bercorak doksatif; menerima tanpa proses kritikal yang menjebak kita pada prinsip yang permisif yang bertentangan dengan kemanusiaan.
Callahan mengingatkan bawah arogansi intelektual adalah bentuk gangguan intelektual yang bersumber dari ego — yaitu distraksi intelektual yang bersifat jahat (vicious intellectual distraction), di mana dorongan ego mengaburkan tujuan sejati berpikir dan mencari kebenaran. Arogansi intelektual adalah bentuk kebanggaan (pride) yang buruk dan mengganggu. Fokus seorang dengan arogansi intelektual bukanlah untuk mencari kebenaran atau pengetahuan sejati, namun tujuan mereka bergeser pada pengakuan, kemenangan, status, dan bahkan kekuasaan (power), legitimasi untuk mensubordinasi yang lain.
Dengan demikian, tampaklah benang merah antara superbia atau haughtiness yang dikemukakan Tannenisi dan arogansi intelektual yang didefinisikan oleh Callahan. Keduanya serupa, dan dapat mengantikan satu sama lain. Seseorang yang mengidap arogansi intelektual, dapat secara sengaja mengabaikan orang lain, mempermalukan, mengintimidasi karena kekhawatiran akan terlukanya ego dan kebanggaan dirinya atau ketakukan akan ancaman terhadap posisi dan statusnya sebagai orang penting, agen epistemik terkemuka dan lain sebagainya. Seorang yang arogan secara intelektual, tidak menjadikan pencarian pengetahuan sebagai motif utama, melainkan status, kemenangan, dan kekuasaan adalah bagian dari egonya.
Secara reflektif dapatlah dikemukakan bahwa arogansi intelektual terjadi begitu jamak dan umum dalam keseharian kita. Bagaimana Prof. Sahin Acikgoz berargumen patriarki, rasisme dan kolonialisme adalah bentuk dari arogansi intelektual tersebut. Dengan contoh lain, kita juga dapat melihat arogansi intelektual tersebut terinstusionalisasi dalam rezim politik atau pun rezim kesehatan yang dirujuk oleh Foucoult. Keengganan para elit mendengar suara akar rumput dan menudingnya sebagai suara bayaran, suara sumbang dan corak demokrasi jalanan adalah bentuk dari arogansi intelektual dalam politik (superbia politik). Begitu juga dalam rezim kesehatan yang menjunjung dominasi normalitas yang mengkriminalisasi perbedaan dengan pelabelan abnormalitas yang melegitimasi intervensi politik dalam arena yang paling intim, yakni tubuh. Atau arogansi penstudi pendidikan yang mengklaim pendidikan terbaik adalah pendidikan yang syarat dengan instrumen penilaian, bukan sebagai proses yang memanusiakan manusia. Arogansi intelektual dapat juga berwujud casual (casual haughtiness), misalnya ketika kolega laki-laki menertawakan kolega perempuan yang menuding gurauannya sebagai seksis, lalu diabaikan dan dipermalukan dengan tudingan, terlalu sensitif, atau tidak punya selera humor. Persoalannya bukanlah rasa humor, namun bagaimana seorang kolega patriarkal mengkerdilkan pemikiran kritis seorang feminis.
Namun sayangnya, klaim superioritas Setan bukanlah bentuk arogansi intelektual. Klaim superioritas setan adalah suatu bentuk stubborn belief atau keyakinan yang resilien. Ia bisa saja menolak tuntutan Tuhan akan ketertundukan (servility) kepada manusia tanpa ada bukti. Dosa besar Setan bukanlah kesombongan akan superioritas dirinya, namun kegagalannya mempercayai Tuhan sebagai Maha Pencipta dan Maha Tahu. Kita, sebagai manusia mungkin telah gagal menangkap petunjuk Tuhan. Setan atau Iblis sekadar dipinjam oleh Tuhan untuk menerangkan sifat manusia, hanya saja Tuhan Maha Tahu akan makhluk-Nya, manusia sebagai makhluk yang self-deceiving yang kerap gagal berkomitmen terhadap akuntabilitas, alias tidak mau dipersalahkan akan keburukan yang ia buat. Dan makhluk mana lagikah yang menimbulkan kerusakan besar selain manusia? Makhluk mana lagi, selain manusia yang begitu mulia, namun pada saat yang sama mampu melakukan—apa yang dikatakan Nietzsche—membunuh Tuhan dengan menghamba pada sesuatu diluar dirinya yang begitu melekat, dalam dan intens? Seperti uang dan kekuasaan. Maka, kebangkitan moral tidaklah dimulai dengan menuding keburukan sebagai sesuatu yang berasal dari luar diri manusia (satanik), namun ia adalah flaws manusia. Mengakui keburukan sebagai bagian inheren manusia, adalah sebuah awal kerendahan hati untuk belajar menjadi lebih beradab.
Daftar Bacaan
Alessandra Tanesini “Calm Down Dear”: Intellectual Arrogance, Silencing and Ignorance” Aristotelian Society Supplementary Volume, Volume 90, Issue 1, June 2016, Pages 71–92, https://doi.org/10.1093/arisup/akw011
Laura Frances Callahan, “Stubborn Fools and the Arrogantly Open-minded”. Canadian Journal of Philosophy (2025), 1–17. doi:10.1017/can.2025.10018
Stacey E. McElroy-Heltzel, Heather D. Battaly, Don E. Davis, and Joshua N. Hook, “Too Much Intellectual Humility? Measuring Intellectual Servility in Civic Engagement During the 2020 U.S. Presidential Election”. DOI: 10.4324/9781003367857-7
Nelson Cowan, Eryn J. Adams, Sabrina Bhangal, “Foundations of Arrogance: A Broad Survey and Framework for Research. Rev Gen Psychol. 2019 December 1; 23(4): 425–443. doi:10.1177/1089268019877138.
Ian M. Church, “The Doxastic Account Of Intellectual Humility” Logos & Episteme, VII, 4 (2016): 413-433
Wacław Bąk, Bartosz Wójtowic, Jan Kutnik, “Intellectual humility: an old problem in a new psychological perspective” Current issues in personality psychology doi: https://doi.org/10.5114/cipp.2021.106999
Simona Mariana Mitu, “Intellectual Humility – A Moral Construct, An Intellectual Virtue” Bulletin of the Transilvania University of Braşov Series VII: Social Sciences • Law • Vol. 14(63) No. 1 – 202 https://doi.org/10.31926/but.ssl.2021.14.63.1.1
Dr. Richard Paul and Dr. Linda Fallacies, “ The Art of Mental Trickery and Manipulation” http://www.criticalthinking.org/ 2004




