Masyarakat Yang Kelelahan Ataukah Pelarian

Ishak Hariyanto
(Pemerhati Filsafat UIN Mataram)
Pagi ini aku menyeruput kopi, namun terasa lebih pahit, setelah aku sadar ternyata ada realitas yang lebih pahit daripada kehidupan, yakni Kopi”. The Burnout Society atau Masyarakat Kelelahan yang penulis dituangkan dalam tulisan singkat ini sebagai refleksi kita dalam menjalani hidup sehari-hari di tengah gempuran masyarakat yang haus akan pencapaian. Mewacanakan manusia memang tidak akan habisnya, terutama pada sisi eksitensialnya. Manusia itu unik dan absurd karena menyimpan banyak misteri. Ia selalu bertanya dalam hidupnya, dan menjadi makhluk yang multitafsir. Manusia juga makluk yang mencari kebenaran dan tidak pernah puas dengan apa yang telah ada, dan terus mencari kebenaran dengan selalu bertanya guna mendapatkan jawaban. Akan tetapi, semua jawaban itu tidak dapat memuaskannya, bahkan harus mengujinya dengan berbagai macam metode ilmiah. Keunikan yang dimiliki manusia dan selalu haus akan pencarian makna hidup, dan eksistensinya, terkadang inilah yang membuat manusia mengalami stress, gangguan mental, dan bahkan mengalami kelelahan.
Masyarakat yang kelelahan ini ditandai dengan “kehausan prestasi, dipuji, dan butuh di validasi”. Meminjam pernyataan Byung Chul Han filsuf Korea yang mana masyarakat modern telah berubah dari disciplinary society (masyarakat disiplin) menjadi achievement society (masyarakat prestasi). Dalam masyarakat disiplin, individu tunduk pada larangan dan aturan yang ketat: “harus” dan “tidak boleh”. Namun, dalam masyarakat prestasi, individu diyakinkan untuk menjadi lebih produktif melalui kebebasan semu: “bisa” dan “boleh”.
Perubahan paradigma ini menciptakan individu yang merasa bebas, padahal sebenarnya terjebak dalam eksploitasi diri sendiri. Masyarakat prestasi menghasilkan subjek yang terus berusaha mencapai standar tinggi yang ditetapkan dirinya sendiri, bukan karena paksaan eksternal, melainkan karena dorongan internal yang tanpa henti. Akibatnya, manusia modern menjadi “budak atas nama kebebasannya sendiri”.
Fenomena semacam ini bahkan berdampak pada kelelahan eksistensial yang termanifestasi dalam bentuk gangguan mental dan fisik seperti burnout, depresi, gangguan kecemasan. Semua ini bukan semata karena tekanan eksternal, melainkan karena tuntutan internal yang berlebihan. Individu modern ingin selalu “lebih baik”, “lebih cepat”, dan “lebih produktif”, “lebih unggul”. Hal semacam ini kemudian berdampak pada individu yang haus pujian dan validasi sehingga melupakan batasan alami tubuh dan jiwanya.
Burnout ini bukan hanya sekedar kelelahan fisik seseorang. Jika kelelahan fisik yang dialami seseorang dapat dipulihkan kembali dengan istirahat. Namun kelelahan ini melebihi kelelahan fisik, melainkan kelelahan eksistensial yang muncul karena hilangnya makna dan orientasi hidup. Di mana dalam masyarakat yang kelelahan telah kehilangan momentum yang berharga yakni “kontemplasi” untuk menuju ketenangan karena terjebak dalam siklus produksi yang tiada akhir.
Dalam masyarakat yang kelelahan, kebebasan justru menjadi jebakan. Individu merasa bebas menentukan tujuan hidupnya, tetapi kebebasan itu mengarah pada tekanan untuk selalu berprestasi alih-alih menyebabkan depresi. Tidak hanya itu, bornout society juga dicirikan oleh hilangnya kebersamaan dan interaksi yang mendalam antarindividu. Semua orang sibuk dengan tujuan pribadinya sehingga ruang sosial menjadi terfragmentasi. Selain itu, kegiatan kontemplatif yang memberi ketenangan batin — seperti diam, beristirahat tanpa tuntutan produktivitas, atau sekadar menikmati waktu senggang — dianggap tidak produktif dan karenanya tidak berharga.
Apakah kita adalah bagian dari masyarakat yang kelelahan ataukah pelarian di tengah tsunaminya informasi. Menawarkan kebebasan namun di satu sisi menjadi bentuk baru dalam perbudakan hidup. Manusia modern menjadi korban ekspektasi diri sendiri yang tak terbatas sehingga mengalami kelelahan fisik, mental, dan spiritual.
“Semoga bermanfaat, Peace begins with a smile”




