Esai

Muhammad dan Kepolosan Eksistensial

Manusia, kata para filsuf, adalah makhluk yang dilemparkan; seperti daun kering yang jatuh tanpa arah, terbawa angin takdir. Heidegger menyebutnya Geworfenheit, keterlemparan. Dari sanalah lahir kegelisahan: mengapa aku di sini? untuk apa aku ada? apakah hidup sekadar menunggu ajal? Kierkegaard lebih dulu menerjemahkannya sebagai bunyi lonceng kecemasan; sementara Sartre menafsirkannya sebagai kutukan kebebasan.

Namun, di balik arus absurditas yang gelap itu, ada cahaya yang lain. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang Rasul Utama dari Hijaz, menghadirkan wajah eksistensi yang tidak muram dan absurd. Ia tidak hadir sebagai jiwa yang terasing, melainkan sebagai jiwa yang polos, bening seperti cermin yang belum tergores. Kepolosan yang bukan kenaifan, bukan pula ketidaktahuan, tetapi sebuah kesiapan batin untuk menerima kebenaran apa adanya. Tumbuh subur di padang pasir, sederhana, tanpa beban teori, tetapi di dalam jiwanya terdapat horizon luas yang mampu menampung divinitas wahyu.

Kepolosan eksistensial itu menjadikannya ‘sosok’ berbeda. Jika manusia modern berangkat dari kecemasan menuju makna, Muhammad berangkat dari kepolosan menuju pencerahan. Ia tidak terseret dalam labirin absurditas, melainkan berjalan dengan ringan, setia pada fitrah. Hatinya laksana mata air jernih: siapa yang mendekat akan merasa segar, siapa yang minum akan menemukan hidup. Muhammad datang mengajak manusia menemukan eksistensinya; Homo Moralis, bahwa ia hadir tidak lain untuk menyempurnakan fitrah manusia sebagai makhluk yang bermoral.

Dalam pandangan para sufi, kepolosan itu adalah kejernihan hati. Di dalam kejernihan, dunia tidak lagi tampak sebagai ruang keterasingan, melainkan sebagai ayat-ayat yang menunjuk pada Yang Esa. Eksistensi Muhammad bukanlah drama tentang keterlemparan, melainkan gerakan lembut bersama irama kosmos. Ia hadir di dunia bukan untuk mengeluh, tetapi untuk menjadi saksi: saksi bahwa hidup dapat dijalani dengan polos, jujur, dan penuh kasih.

Maka ketika Kierkegaard mengajarkan leap of faith (lompatan iman), Muhammad memperlihatkan bahwa iman bisa tumbuh dari kepolosan yang murni. Jika Heidegger melihat manusia sebagai Sein-zum-Tode, “ada-menuju-kematian”, maka Muhammad menunjukkan wajah lain: Sein-zum-Licht, “ada-menuju-cahaya”.

Ketika wahyu pertama turun di gua Hirā’, respon Muhammad bukanlah perayaan heroik seorang calon pemimpin manusia yang bergembira menerima legitimasi sosial-politik, Bukan pula insting kekuasaan yang menindas. Yang hadir pada dirinya justru rasa gemetar dalam keterkejutan dan selanjutnya dengan polosnya berkata kepada Khadījah; Zammilūnī, zammilūnī (Selimuti aku, selimuti aku). Sebuah ungkapan yang memperlihatkan kepolosan kemanusiaannya: bahwa berjumpa dengan cahaya ilahi justru membuat manusia merasakan keterbatasannya secara paling dalam. Selimut menjadi simbol ambivalen yang di satu menggambarkan sisi pelindung dari kegetaran eksistensial, di sisi lain tirai yang sementara menutup tubuh rapuh sebelum ia siap menanggung pancaran cahaya.

Dari momen inilah Sein-zum-Licht menemukan maknanya: cahaya tidak datang dalam kilatan yang membakar, melainkan dalam pelukan kelembutan yang memungkinkan manusia menerima beban wahyu tanpa hancur olehnya. Kepolosan, ketakutan, dan kerendahan hati Nabi menjadi jalan menuju kesiapan eksistensial yang melampaui Sein-zum-Tode Heideggerian, menuju horizon yang lebih luas, yakni eksistensi yang diterangi, bukan digelapkan oleh kesadaran akan kefanaan.

Dalam pandangan eksistensial, manusia dianggap digerakkan oleh kesadaran akan kefanaan; namun dalam horizon kenabian, manusia dipanggil dan digerakkan oleh kerinduan akan cahaya. Kematian di sana bukanlah kegelapan final, melainkan sebuah pintu ke dalam terang yang lebih hakiki. Al-mawt huwa al-‘ubūr ilā nūr al-haqq; “kematian adalah penyeberangan menuju cahaya kebenaran.” Walhasil, eksistensi manusia dalam horizon Muhammad bukan sekadar perjalanan menuju kefanaan, melainkan sebuah ziarah menuju cahaya yang telah memancar sejak azali.

Kepolosan lain hadir saat beliau berkata; “Aku ini seorang manusia. Jika aku memerintahkan kalian dengan sesuatu dari agama kalian maka ambillah. Jika aku memerintahkan kalian dengan sesuatu berupa pendapat (ra’yu) maka aku hanyalah seorang manusia“, yang kemudian beliau tegaskan kembali dengan berkata “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.”

Dari sabdanya, Muhammad menunjukkan bahwa cahaya profetik tidak pernah dimaksudkan untuk meniadakan akal budi manusia. Justru, iman tumbuh dari pengakuan jujur atas batas diri, dan dari sana lahir ruang dialog antara wahyu dan pengalaman manusiawi. Pernyataan ini adalah cermin lain dari Sein-zum-Licht: keberanian untuk tetap sederhana, yang tidak menuntut absolutisme dalam segala hal, dan menempatkan iman sebagai cahaya yang menuntun, bukan sebagai beban yang mematikan daya pikir. Nabi memperlihatkan bahwa spiritualitas bukanlah penafian kemanusiaan, melainkan puncak integrasinya, di mana wahyu dan akal, iman dan pengalaman, saling menerangi tanpa saling meniadakan.

Safiur Rahman Mubarakpuri menulis biografi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menjulukinya sebagai rahiq al-makhtūm; anggur suci yang tersembunyi, minuman surgawi yang murni tak tersentuh keruh dunia (Q.S. al-Muthaffifīn : 25–26). Ia menjadi cawan bening yang menyimpan esensi ilahi, yang ketika disentuh, melepaskan keharuman keabadian. Dari dirinya mengalir rasa yang tidak memabukkan, melainkan menyadarkan; tidak pula melarikan, melainkan menghadirkan. Ia adalah khamr al-mahabbah, anggur cinta, yang jika diminum oleh hati manusia, menghapus debu keterasingan dan menyalakan api kerinduan kepada Yang Maha Esa.

Dalam diri Muhammad, rahiq al-makhtūm itu bukan menjadi sekadar metafor, melainkan sebuah kenyataan hidup: kepolosan eksistensial seorang manusia yang menjadi jalan bagi dirinya untuk dapat menuju rasa paling murni, yakni rasa hadir bersama Tuhan.

Kepolosan Muhammad bukanlah sekadar citra atau sifat personal, melainkan jalan yang dapat kita tempuh untuk menghidupi kehidupan. Ia mengajarkan bahwa keberanian terbesar bukanlah melawan absurditas, melainkan menjaga hati agar tetap jernih di tengah riuh dunia. Dan dari kejernihan itu kita menemukan deepest knowledge (kearifan terdalam), membantu kita melepaskan diri dari kejenuhan dan kegelisahan tiada akhir; bahwa eksistensi manusia dapat menemukan makna dirinya bukan dalam kegelisahan yang tiada akhir, tetapi dalam kepolosan yang membuka ruang bagi cahaya Ilahi untuk singgah dan hadir.

Muhammad Rizky HK

Akademisi UIN Mataram

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button