Esai

Estetika Qurani dan Filsafat Naratif Ricoeur

Surat Yūsuf dibuka dengan klaim berani; “Naḫnu naqushshu ‘alaika aḫsanal-qashashi“(Q.S Yusuf: 3). Bahwa kisah yang akan dijabarkan di dalamnya adalah sebuah aḥsan al-qaṣaṣ; kisah terbaik. Pernyataan ini menegaskan bahwa Quran bukan hanya diturunkan untuk memberikan berita yang disampaikan dengan benar (nabaahum Bil-Haqqi) tetapi disampaikan pula dengan kisah yang indah, penuh inspirasi dan sarat dengan nilai. Sekaligus menegaskan bahwa kebenaran tidak hanya hadir dalam bentuk proposisi logis atau argumen rasional, melainkan juga dalam kisah yang menggugah sisi emosional-spritual manusia.

Filsuf Prancis, Paul Ricoeur, mempunyai gagasan yang bisa membantu kita memahami pembacaan ini. Menurut Ricoeur, manusia adalah makhluk naratif. Artinya identitas kita terbentuk dari cerita baik; cerita yang kita narasikan sendiri, maupun yang diwariskan orang lain. Dalam pemahaman ini, kita mengenal diri kita bukan hanya sekedar melalui definisi, tetapi melalui kisah yang terus kita jalani dan maknai.

Kalau kita tarik ke pembacaan kisah Yūsuf ‘alaihissalam, maka jelas terlihat bagaimana cerita itu bukan sekadar terbaca sebagai rangkaian peristiwa. Ahsanul Qasash merangkum setiap narasi tentang; Sumur tempat ia dibuang, penjara yang menahannya, hingga singgasana yang akhirnya ia duduki, sehingga membentuk satu alur yang saling terkait. Cerita ini seperti menyingkap makna tunggal yang terdapat di balik penderitaan, godaan, dan pengampunan. Persis seperti kata Ricoeur, sebuah peristiwa baru dapat mempunyai arti ketika ditempatkan dalam bingkai kisah yang lebih besar.

Kekuatan kisah Yūsuf ‘alaihissalam bukan hanya pada maknanya, tetapi juga pada keindahan narasinya. Quran mengajak kita untuk larut dalam emosi; Marah melihat saudara-saudaranya yang iri, Pergolakan ketika ia menghadapi godaan Zulaikha, Rasa iba ketika ia dipenjara, dan Terharu saat rekonsiliasi-rekonsiliasi dan titik balik terjadi. Keindahan narasi ini hadir bukan hanya sebagai pemanis atau hiasan, melainkan sebagai jalan agar kebenaran lebih mudah meresap ke dalam jiwa.

Di sinilah kisah Yūsuf dan pemikiran Ricoeur saling berjumpa. Pada satu titik, keduanya sama-sama menegaskan bahwa narasi punya kekuatan transformatif yang menggugah. Bedanya, dalam Quran, kisah Yūsuf adalah wahyu yang membawa pesan ilahi; sementara bagi Ricoeur, kisah adalah konstruksi manusia yang membentuk identitas. Tetapi kesimpulannya tetap sama: Manusia menemukan dirinya melalui cerita.

Mungkin inilah sebabnya mengapa agama, sastra, dan bahkan filsafat sering memilih jalan cerita. Narasi adalah bahasa paling universal, dan dapat menjadi washilah untuk menjembatani antara akal dan rasa, mengikat masa lalu dengan masa depan, dan membantu kita memahami siapa diri kita di hadapan sesama maupun di hadapan Tuhan.

Maka, ketika Quran menyebut kisah Yūsuf sebagai “kisah terbaik” seakan sedang mengingatkan kita bahwa kebenaran tidak hanya milik logika yang kaku dan dingin, tetapi juga milik kisah narasi yang indah. Dan barangkali, dalam setiap cerita yang kita jalani, kita pun sedang menulis kisah terbaik tentang diri kita sendiri.

Muhammad Rizky HK

Akademisi UIN Mataram

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button