Candu yang Kita Sebut Ontologi
Tanggapan atas Saudara M.A.P Ontologi adalah Candu – Forum Dialektika
Membaca artikel Ontologi adalah Candu rasanya seperti menonton seorang dokter syaraf yang sangat pandai dan artikulatif menjelaskan bagaimana otak manusia tergoda pada gula, lalu di ujung ceramahnya mengusulkan agar semua makanan manis di bumi dihapuskan. Tesis yang dibangun tajam menukik hingga bisa saja menyebabkan seseorang tergelincir. Ada bias kognitif dan linguistik yang mendorong kita memuja “kedalaman” konsep seperti esensi, substansi, hakikat, tetapi solusi yang disarankan secara implisit seperti mengajak kita diet total dari ontologi.
Masalahnya, ontologi bukanlah gula pasir yang bisa diganti tropicana slim. Ia lebih mirip karbohidrat: salah pola konsumsi memang bikin buncit, tapi tanpa kehadirannya tubuh epistemologi kita kolaps.
Penulis artikel membentangkan sepuluh lapis “mekanisme candu” yang katanya menjelaskan kenapa kepala kita selalu tergoda mencari yang paling dasar. Mulai dari grammar yang memaksa kita menominalkan proses, otak yang suka kompresi, bias penjelasan yang memanjakan pemahaman, sampai kebutuhan emosional akan kepastian. Analisisnya rapi tersusun tersturuktur seperti sebuah arsitektur labirin. Namun menimbulkan kebingungan pelik; labirin itu memotong peta besar filsafat menjadi satu jalur sempit, yakni jalur yang menuntun pembaca untuk mengira bahwa ontologi = esensialisme buta.
Padahal, dalam sejarahnya, ontologi itu bukan cuma memburu “esensi” ala Aristoteles. Ada ontologi proses yang cair seperti Heraklitos dan Whitehead, ada pula ontologi relasional yang sibuk memetakan keterhubungan, bahkan ada ontologi yang secara sengaja anti-esensialis. Keputusan menyalahkan ontologi secara keseluruhan karena sebagian penggunanya terjebak esensialisme adalah seperti layaknya menutup semua restoran hanya karena ada warung yang masakannya terlalu asin.
Benar bahwa bahasa dapat memancing reifikasi dari kata “negara” terdengar seperti benda padahal ia rangkaian proses sosial. Tapi ini bukan alasan membuang ontologi, melainkan justru alasan untuk berlatih ontologi yang lebih sadar ‘”bahasa”. Dalam filsafat analitik, orang seperti Quine atau Strawson justru membongkar bagaimana grammar mempengaruhi komitmen ontologis, lalu memisahkan mana yang konstruksi linguistik dan mana yang komitmen metafisik yang sah. Obat untuk ilusi semantik bukan pantang ontologi, melainkan dosis ontologi yang diawasi sesuai kadarnya.
Lalu argumen soal otak yang suka kompresi, dan bahwa itu sifat bawaan, dan ya, tentu saja memberi rasa puas. Tapi perlu diketahui bahwa tidak semua kepuasan intelektual itu candu. Kadang ia adalah tanda bahwa model kita memang menangkap struktur penting dari realitas. Mekanika Newton adalah kompresi; hukum Mendel juga; tabel periodik apalagi. Tidak semua “rasa beres” berarti kita sedang mabuk esensi, tetapi bisa jadi karena kita baru saja menyusun potongan puzzle dengan benar.
Poin penulis tentang bias penjelasan juga menarik: kata “hakikat” memang bisa jadi plester untuk luka epistemik yang belum dibersihkan. Tapi menolak semua definisi esensial sama berbahayanya dengan mengunyah semua obat tanpa resep: kita kehilangan alat untuk menjawab pertanyaan yang memang membutuhkan identifikasi sifat mendasar. Di kimia, misalnya, esensi air; H₂O, bukan retorika kosong, melainkan kunci untuk memprediksi sifatnya.
Yang paling menggelitik adalah gambaran “eskalator metafisis”: M.A.P mengatakan tiap ada anomali, kita menambah lapisan realitas baru untuk menenangkan diri. Kritik ini valid untuk metafisika malas, tapi sejarah ilmu penuh contoh bahwa penambahan lapisan justru mengungkap struktur terdalam dunia. Lapisan “medan elektromagnet” bukan pelarian, melainkan penemuan. Bedanya ada pada niat: menghindari masalah atau memahaminya.
Ironisnya, penulis mengutip Whitehead tentang “fallacy of misplaced concreteness” untuk mengkritik esensialisasi, tapi ia sendiri nyaris jatuh pada kekeliruan serupa: memperlakukan “candu” bukan sekadar metafora, melainkan diagnosis menyeluruh tentang ontologi. Jika kita menelan metafora mentah-mentah, bukankah itu juga adalah sebuah bentuk reifikasi; “peta” yang menyamar jadi “wilayah”, Menggelikan bukan?
Memang, pencarian fondasi bisa membuat kita malas menghadapi ambiguitas. Tapi menghindarinya sama sekali justru membuat kita melayang tanpa jangkar. Ontologi yang sehat bukanlah batu karang yang membeku, tapi kerangka apung yang bisa diikatkan pada pelabuhan mana pun sambil tetap berpindah mengikuti arus.
Jadi, apakah ontologi candu? Jika yang dimaksud adalah esensialisme dogmatis yang tak mau menguji dirinya sendiri, maka iya; dan itu candu yang berbahaya. Tapi jika yang dimaksud adalah disiplin filsafat tentang “apa yang ada”, maka itu bukan candu, melainkan salah satu vitamin paling penting bagi kesehatan intelektual. Yang kita perlukan bukan rehab anti-ontologi, melainkan diet epistemologis yang cerdas: tahu kapan menggali, kapan berhenti, dan kapan mengganti sekop dengan jaring.
Karena, mari jujur, masalahnya bukan bahwa kepala kita mencari kedalaman, tetapi masalahnya adalah ketika kita lupa bahwa kedalaman hanyalah salah satu dimensi dari kebenaran. Dan menukar seluruh lautan pengetahuan hanya demi menghindari candu kedalaman, itu justru candu baru: candu kesamarataan dangkal yang tampak aman tapi memiskinkan kita.




