Opini

Bisa Jadi, Cinta Adalah Kurikulum yang Kita Butuhkan

Ada sebuah adagium populer yang sering bergema dalam diskusi santai di ruang-ruang akademik informal; “Semakin konkrit program pemerintah, semakin abstrak penerapannya.” Sebuah sindiran halus yang lahir dari pengalaman panjang berhadapan dengan birokrasi yang gemar membuat cetak biru, namun enggan membasahi kaki di lumpur implementasi.

Bayangkan bagaimana konkritnya kata-kata “Merdeka” dan “Belajar”? atau berikutnya “Kampus” dan “Merdeka”?. Ya, kemerdekaan semu bagi para peserta didik untuk kembali dijajah dalam arena pertarungan dunia kerja yang sesak dan menyesakkan. Konkrit, tapi terlampau jauh dari titik ideal untuk dilaksanakan.

Maka kemudian adagium ini bisa dibalik; Semakin abstrak program pemerintah, semakin konkrit penerapannya”. Karena sesekali, muncul gagasan yang begitu abstrak, begitu utopis, hingga tidak bisa langsung dijelaskan dalam bentuk tabel, grafik, atau indikator kerja, tetapi konkrit dan menubuh dalam pelaksanannya. Dan di sinilah Kurikulum Cinta yang digagas oleh Kementerian Agama menjadi menarik: ia terdengar terlalu lembut untuk dunia kebijakan, terlalu filosofis untuk rapat anggaran, dan terlalu manusiawi untuk dokumen Rencana Strategis.

Kurikulum ini bertujuan mulia: menanamkan cinta kepada Tuhan, nilai kasih sayang, empati, toleransi, kepada sesama, penghargaan kepada lingkungan, dan patriotisme bangsa. Nilai dan kehalusan budi yang diharapkan hadir secara otentik dalam pendidikan keislaman. Dalam dunia yang makin keras dan bising, gagasan semacam ini terdengar seperti nada yang asing; tapi justru karena itulah ia dibutuhkan. Pendidikan selama ini terlalu banyak bicara tentang capaian, efisiensi, dan angka; terlalu sedikit bicara tentang perasaan, hubungan, dan kemanusiaan.

Sebagian orang merespons Kurikulum Cinta dengan canda sinis: “Apa nanti ada ulangan kasih sayang? Apakah guru-dosen harus memberikan soal pilihan ganda tentang empati?” Respons semacam itu bisa dimaklumi, mengingat betapa seringnya nilai-nilai luhur dalam pendidikan dikebiri oleh logika teknokratis. Kita pernah menyaksikan bagaimana semangat “pendidikan karakter” berakhir menjadi slogan yang ditempel di dinding kelas, sementara kekerasan verbal dan diskriminasi serta bullying masih tumbuh subur di lingkungan sekolah.

Namun justru karena Kurikulum Cinta begitu abstrak, ia berpeluang besar untuk tidak jatuh ke dalam jebakan itu. Sebab nilai-nilai yang abstrak sulit diukur, dan karena sulit diukur, ia tidak mudah dibakukan. Dan ketika tidak dibakukan, ada ruang untuk ditafsirkan, dihayati, dan dihidupkan secara kontekstual. Kurikulum Cinta bukanlah modul tambahan yang harus diajarkan selama 2×40 menit setiap pekan. Ia adalah cara pandang, bukan materi ajar. Ia adalah suasana yang diciptakan, bukan sekedar tumpukan rumus yang harus dihafal.

Dalam dunia pendidikan, banyak hal penting justru tidak pernah tercatat di buku nilai. Kita tidak bisa mengukur keberanian seorang murid yang akhirnya berani berbicara. Kita tidak punya rapor yang mencatat seorang guru-dosen yang dengan sabar mendengarkan murid yang sedang gelisah. Tapi semua itu adalah bagian dari cinta. Dan mungkin, itulah esensi dari pendidikan yang sesungguhnya.

Kita tentu tidak menutup mata terhadap kenyataan: bahwa sistem pendidikan kita masih penuh dengan tantangan. Guru-Dosen masih terbebani administrasi yang tidak perlu. Kesenjangan fasilitas antara sekolah kota dan pelosok masih menganga. Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan masih terjadi. Namun justru karena kenyataan itu begitu keras, gagasan seperti Kurikulum Cinta menjadi penting; bahkan mendesak.

Barangkali, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, sebuah kebijakan pendidikan tidak dimulai dari ketakutan akan rendahnya ranking atau kekhawatiran terhadap krisis moral, tapi dari keyakinan bahwa pendidikan harus bertumpu pada relasi yang manusiawi. Pendidikan bukan hanya soal membentuk murid menjadi pekerja terampil, tapi menjadi manusia seutuhnya yang berpikir, merasa, dan peduli.

Kurikulum Cinta memberi ruang untuk itu. Ia tidak menjanjikan keberhasilan instan. Tidak ada capaian output yang bisa dicatat dalam Laporan Kinerja Tahunan. Tapi jika ia berhasil, kita akan melihatnya dalam hal-hal kecil: guru-dosen yang lebih sabar, kelas yang lebih hangat, murid yang lebih berani memahami daripada menghakimi. Dan jika ia gagal pun, barangkali ia akan gagal dengan cara yang lebih manusiawi, bukan karena tak ada niat, tapi karena sistem belum siap (mencintai).

Jadi ketika sebagian orang menertawakan Kurikulum Cinta karena dianggap terlalu abstrak, saya justru menaruh harapan di sana. Sebab bisa jadi, di tengah kebisingan proyek-proyek pembangunan yang keras dan kaku, nilai yang lembut seperti cinta adalah satu-satunya ruang yang tersisa bagi pendidikan untuk tetap menjadi tempat yang layak bagi manusia.

Muhammad Rizky HK

Akademisi UIN Mataram

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button