Cyborg Kesadaran; Di Mana Aku Diantara Mesin
Ishak Haryanto. Akademisi UIN Mataram
Di mana aku diantara mesin? Pertanyaan filosofis ini mengganggu kenikmatan ngopiku sehingga harus dijawab. Dalam membongkar term kesadaran, saya mencoba kembali membongkar percikan pemikiran Donna Haraway.
Dalam pandangan Donna Haraway kesadaran dan identitas manusia dalam era digital menyebutnya dengan istilah cyborg; campuran organisme dan mesin. Cyborg ini digambarkan sebagai metafora untuk menggambarkan identitas manusia di era teknologi, karena bukan hanya manusia yang memiliki bagian mekanis, tetapi juga sebagai simbol tentang keterhubungan manusia dengan teknologi untuk menghapus batas konvensional. Dalam tulisan Donna Haraway yang berjudl “A Cyborg Manifesto: Science, Technology, and Socialist-Feminism in the Late Twentieth Century”. Karya ini lahir pada Tahun 1985 sebagai wacana manusia dalam teori feminis, studi teknologi, dan filsafat posthuman.
Pada aspek lain, cyborg pada dasarnya bagian dari dekonstruksi terhadap batas-batas tradisional atau dikotomi lama yang menjadi dasar cara kita memandang dunia, seperti: Manusia vs. Mesin; teknologi bukan sesuatu di luar manusia, tetapi bagian dari eksistensi manusia. Alam vs. Budaya; teknologi telah menjadi bagian dari alam baru bagi manusia. Laki-laki vs. Perempuan; identitas gender menjadi cair dan dapat direkonstruksi dengan bantuan teknologi. Fisik vs. Virtual; keberadaan manusia tidak hanya berbasis tubuh biologis, tetapi juga kehadiran digital yakni avatar, profil media sosial, dan artificial intelegent AI.
Maka dari itu, cyborg dan identitas manusia bukan hanya sesuatu yang baku atau natural, tetapi bisa dikonstruksi, dinegosiasikan, dan diubah melalui teknologi. Begitu pula cyborg feminisme yang mana Haraway menggunakannya untuk mengkritik feminisme tradisional yang sering menekankan esensi perempuan alami. Ia menawarkan feminisme yang inklusif, plural, dan bebas dari batas biologis.
Sedangkan dalam dimensi politik, cyborg digambarkan sebagai simbol perlawanan terhadap tatanan sosial patriarkis, kapitalistik, dan militeristik yang memisahkan manusia dan teknologi, karena manusia, mesin, hewan, dan teknologi digital pada dasarnya saling terhubung dalam jaringan. Apa bila cyborg di lihat dari perspektif kekinian yang mana manusia hidup pada era digital (AI, media sosial, bio-teknologi seperti tubuh manusia diperluas (wearable tech, AI assistant, implant), maka kesadaran manusia adalah bagian dari teknologi.
Maka dalam konteks kesadaran, bahwa manusia adalah bagian dari dunia digital (avatar, data, identitas virtual). Kesadaran klasik yang hanya dilihat dan pahami dari realitas kini telah menjadi hybrid, di mana manusia bukan hanya tubuh biologis, tetapi gabungan dengan alat dan data digital. Maka dari itu, kesadaran self tidak lagi hanya berdasarkan pada tubuh biologis semata, tetapi pada jejaring data, avatar, media sosial, dan alat digital yang menjadi eksistensi diri. Mengapa demikian, karena dalam cyborg, kesadaran manusia telah bercampur menjadi biopolitics nya dan memainkan peran, karena manusia bukan dilihat sebagai manusia an sich, namun dalam media digital kesadaran manusia harus dilihat pada sisi siapa yang mengontrol teknologi, maka ia dapat mengontrol cara manusia membentuk dirinya dan kesadarannya.




