Jalan Kakap

Oleh : Muhammad Alkaf.
Jalan Kakap ada enam. Rumah di jalan itu didiami oleh tenaga kesehatan Rumah Sakit Umum Dzainoel Abidin (RSUZA), dokter dan perawat. Jalan Kakap satu sampai empat merupakan rumahnya para dokter spesialis. Segala spesialis ada. Dari penyakit dalam, syaraf, anak, mata, dan penyakit lainnya. Jalan kakap lima dan enam ditempati para perawat. Ada satu lagi, tapi tidak resmi, namanya jalan kakap ujung. Tempatnya di kompleks rumah sakit jiwa. Jadi, kadang-kadang, untuk mengejek sesama teman di SMP, tinggal diteriaki, “Ooo… Kakap ujong!” Terkadang, oleh teman-teman, saya disalah pahami juga. Dikiranya, alamat rumah saya di jalan kakap. Jadi, terkadang, jika sial, kena juga teriakan itu. Saya tentu tidak menerima, lalu mengklarifikasi. “Benar di jalan kakap, tetapi ada lorongnya. Lorong Seulanga,” sergah saya.
Peta demografi memang demikian. Dahulu, Banda Aceh tidak seramai sekarang. Tempat saya tinggal, yaitu rumah orang tua saya, berada dalam wilayah admistratif Desa Bandar Baru, yang merupakan pemukiman baru di zaman Gubernur Ali Hasjmy.
Untuk penataan kota baru, maka dibangunlah rumah sakit bertaraf provinsi, lokasinya tepat berada di depan jalan utama Desa Bandar Baru, yang memang menjadi tempat paling strategis di tahun delapan puluhan sampai dua ribuan awal. Untuk mendukung keberadaan rumah sakit itu, maka dibangunlah perumahan para dokter itu, beberapa tahun kemudian dilanjutkan dengan perumahan para perawat.
Bapak saya membeli tanah dan membangun rumah di dekat perumahan dokter RSUDZA itu. Karena bukan bagian dari profesi dokter, lingkungan kami memberi identitas baru yang bukan nama ikan, karena jalan-jalan di Desa Bandar Baru, seluruhnya bernama ikan: gabus, belanak, bandeng, pari, cumi-cumi, dan kakap. Lingkungan kami memilih nama bunga: Seulanga. Karena dikonstruksi bagian dari jalan kakap, tepatnya jalan kakap satu, maka seulanga menjadi nama lorong. Jadi, lengkapnya: Jalan Kakap Satu, Lorong Seulanga, lalu belakangan, bertambah, Gang Meulu.
Karena cuma akses untuk ke jalan utama, baik untuk berkerja, sekolah, dan kuliah, warga lorong Seulanga haruslah melewati jalan kakap satu itu, tetapi kesadaran yang terbangun berbeda, terutama, bagi kami angkatan kami – Anen, Anwar, Habibie, Abi, dan beberapa nama lainnya, yang saat itu masih kanak-kanak. Secara psikologis, kami melihat anak-anak para dokter sebagai kelas atas karena pendapatan ekomomi mereka yang lebih tinggi. Untuk melawan itu, kami sering mengajak mereka bertanding sepak bola. Terkadang, kami menang, terkadang juga kalah. Tidak jarang pertandingan berakhir sedikit ricuh. Wasit tidak ada saat itu. Jadi, kalau pun terjadi keributan, biasanya berhenti dengan sendirinya. Pertandingan sepak bola biasanya dilakukan di lapangan tenis atau di lapangan volley.
Tentu saja, lapangan, dan tanah yang ada di situ, kepunyaan RSUDZA. Sederhananya, kepunyaan bapak-bapak dari anak-anak dokter yang kami lawan itu. Tetapi, mungkin saat itu antena masih pendek, kami menganggap bahwa lapangan-lapangan itu milik bersama, bahkan pada saat-saat tertentu seperti kepunyaan kami seutuhnya. Sepertinya, anak-anak dokter itu tidak memperdulikannya. Sepertinya, mereka memiliki hobi lain yang lebih banyak.
Selain dengan anak-anak dokter spesialis itu, kami juga bertanding melawan anak-anak dari kakap enam. Berbeda dengan anak-anak dokter spesialis yang lebih stylis dan lurus, anak-anak dari jalan kakap enam itu sama sangarnya dengan kami. Pertandingan sering kali ribut dengan tensi tinggi. Tidak ada ampun. Pertandingan juga dilaksanakan di atas lapangan rumput di sawah warga yang tidak menanam padi. Ternyata, keadaan ekonomi yang hampir sama ikut menentukan tensi pertandingan. Pernah sekali, terjadi perkelahian sengit, sampai-sampai harus mendatangkan orang yang lebih tua untuk melerai. Pertandingan pun dibatalkan, tanpa perlu menunggu azan magrib.
Sekarang, penanda zaman kami itu sudah raib; lapangan-lapangan itu sudah tidak ada lagi. Setelah bencana gempa dan tsunami, tempat kami menghabiskan waktu sore hari dengan menendang bola, sudah berganti dengan rumah sakit megah buatan Jerman, yang dibangun di sebelah rumah sakit lama yang terkena hantaman tsunami. Jalan kakap pun, dari satu sampai empat, juga sudah tidak ada lagi. Rumah-rumah dokter spesialis itu telah dirobohkan karena pembangunan rumah sakit baru itu. Penanda zaman yang masih tertinggal adalah jalan penghubung, dari jalan Daud Beureuh sampai ke gampong Lambhuk. Tetapi, penanda itu pun akan pergi juga karena jalan itu tidak boleh lagi dilewati kendaraan. Dua rumah sakit itu akan digabung demi peningkatkan pelayanan kesehatan.
Begitulah, penanda pastilah datang dan pergi. Yang tinggal adalah kenangan tentang tersebut, yang semakin lama akan menguap juga, lalu pergi seiring perginya sang pemiliki kenangan itu.




