Opini

Apakah Generasi Muda Melupakan Hasan Tiro?

Untuk mengawali tulisan ini, saya mengajukan dua cerita yang diangkat dari survei di kelas. Tetapi, saya tidak mengklaim level keilmiahan “survei” tersebut.

Ceritanya begini:
“Siapa pendiri GAM?”Tanya saya.
Suasana kelas mendadak hening. “Alamat tidak ada yang tahu (lagi) nih,” saya membatin.
Frasa “tidak ada yang tahu lagi” merupakan pengalaman yang datang menyergap pikiran saya, karena pada kelas² sebelumnya, tidak ada yang bisa menjawab dengan tepat pertanyaan tersebut.
Lalu, tiba-tiba ada yang menjawab dengan suara samar, “Hasan…”
Saya langsung mengejarnya, “Hasan apa?”
Saya berharap dia melengkapi jawabannya dengan benar.
“Hasan Husen, Pak.”

Sekarang, mari kita memasuki cerita kedua:
Saya melakukan survei kecil-kecilan di kelas. Hasilnya: Mahasiswa sangat mengenal KDM. Di sisi lain, mahasiswa lebih mengenal Mualem daripada Hasan Tiro. Bahkan, Mualem dipersepsikan sebagai pendiri Gerakan Aceh Merdeka.

Bisa jadi, hipotesis saya bahwa Hasan Tiro mulai dilupakan akan dibantah dengan data lain, misalnya dari medsos. Masuk akal juga. Apalagi jika menyimak perdebatan tentang posisi Aceh dalam pandangan hukum internasional yang kini diperdebatkan di live Tiktok.

Kita akan sama-sama menyaksikan seluruh yang hadir, baik pendebat maupun peserta di kolom komen teringat dengan Hasan Tiro dengan sebaik-baiknya. Apalagi jika dihadapkan dengan kekecewaan situasi sosial Aceh pasca-damai pada aspek material hari ini. Maka, ramai-ramailah memanggil sesuatu yang abstrak untuk menjawab rasa frustrasi.

Lalu, bagaimana kita membaca tentang generasi muda yang saya ceritakan di atas? Yang lebih mengenal KDM, yang jauhnya ratusan kilometer, dengan Hasan Tiro yang lebih dekat.

Jawaban, yang masih bersifat hipotetik, adalah keterpaparan mereka melalui media sosial. KDM melakukan segala fitur di platform media sosial dengan menampilkan citra populis dan solutif. Citra yang membuatnya disambut bak penyelamat oleh rakyatnya. Sedangkan Hasan Tiro tidak berada di jalur yang sama. Akibatnya, dia akan menjadi mitos yang semakin sulit didekati, yang lama kelamaan dianggap hanya lewat saja dalam lintasan sejarah Aceh.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button