Rocky Gerung dan Mitologi PSI

Oleh Muhammad Alkaf.
Pembelaan Rocky Gerung kepada Prabowo tidaklah mengherankan. Mereka datang dari tradisi politik yang sama, PSI. Atau, lengkapnya, mitologi PSI. Tradisi itu juga yang membuat Rocky Gerung jengah kepada Jokowi.
Ketika publik bertanya mengapa dia kritis terlampau kuat Kepada Jokowi, namun tidak untuk Prabowo. Rocky bersembunyi di balik dalih kebijakan.
Kebijakan Jokowi, seperti UU Cipta Kerja, adalah malapetaka. Sedangkan kebijakan MBG dan Koperasi Merah Putihnya Prabowo merupakan amanat konstitusi dan perwujudan sosialisme di tengah tekanan kapitalisme.
Rocky boleh saja berkata demikian. Tetapi, energi analitiknya tidak sekuat ekspresi politik dari imajinasi lamanya tentang PSI dan Indonesia.
PSI merupakan varian dari sejarah pemikiran politik Indonesia sejak bangsa ini dibayangkan. Namun, nasib elektoralnya tidak semujur varian nasionalisme, islamisme, dan komunisme. Ide-ide sosialismenya PSI, seperti humanisme dan demokrasi, lenyap dimakan sejarah. Terlebih, saat Demokrasi Terpimpin, kekuatan politik ini dihancurkan dengan kebijakan populis Sukarno.
PSI tidak mati. PSI menjadi mitologi. Orde Baru yang membangun mitos itu.
Orde Baru memanggil pulang cendekia utama PSI, yang menjadi eksil di zaman Demokrasi Terpimpin, Soemitro. Orde Baru juga membuka ruang kepada intelektual PSI lainnya, seperti Soedjatmoko. Tujuan Orde Baru adalah untuk menciptakan wajah rezim yang lebih teknokratik dan nir-ideologi.
Orde Baru berhasil. Belakangan, elite intelektual PSI malah memilih jalan melingkar. Mereka menjadi pengkritik Orde Baru yang mulai menjauhi demokrasi dan mendekati fasisme.
Di lingkaran PSI, mulai muncul intelektual yang lebih muda. Sebut saja, Dr. Sjahrir dan Rocky Gerung. Dua nama ini dibina langsung oleh generasi PSI yang pernah berjumpa langsung dengan Sjahrir Senior, Rahman Toleng. Dari jalan ini, geng PSI menciptakan ruang simulakra Indonesia yang demokratis dan humanis melalui kerja-kerja intelektual.
PSI yang lebih muda mengidealkan bahwa intelektualisme mesti menjadi panglima. Salah satu jargon mereka, yang belakangan diperkenalkan oleh Rocky Gerung, adalah akal sehat.
Pada akal sehat, intelektualisme, dan penghormatan pada individu, oleh Rocky Gerung, dilepaskan dari Jokowi dan diletakkan kepada Prabowo.
Alam demikianlah yang membentuk Rocky Gerung seperti yang kita lihat beberapa hari terakhir.




