Perkuat Kehidupan Toleran di NTB, Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN Mataram Gelar Moderation Connect Ke-3 Tahun 2026

Moderation Connect Ke-3 UIN Mataram Perkuat Moderasi Beragama untuk Merawat Kerukunan NTB
MATARAM, 13 Agustus 2026 — Pusat Moderasi Beragama (PMB) UIN Mataram di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) kembali memperkuat komitmennya dalam merawat kerukunan melalui Moderation Connect Ke-3 Tahun 2026. Mengusung tema “Bridging Culture, Law, and Eco-Theology: A Religious Moderation Approach to Global Peace and Sustainability”, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman dan lintas budaya sekaligus forum untuk memperkuat praktik moderasi beragama di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Moderation Connect 2026 berlangsung selama dua hari. Hari pertama, Kamis (13/8), diisi dengan Seminar Nasional yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, PNS muda, serta sejumlah unsur lintas iman. Rangkaian dilanjutkan pada hari kedua melalui The 3rd Annual International Conference on Religious Moderation (AICRM) 2026.
Seminar Nasional menghadirkan Prof. Dr. H. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan pada Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Kementerian Agama RI. Dalam paparannya bertajuk “Urgensi Moderasi Beragama dalam rangka Pencegahan Radikalisme dan Intoleransi untuk Menjaga Indonesia”, Prof. Zainul Hamdi mengurai sejarah perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara sekaligus tantangan moderasi beragama di tengah perubahan sosial saat ini.
Menurutnya, penyebaran agama di Nusantara pada masa awal berlangsung melalui jalur non-koersif, antara lain jaringan perdagangan maritim, pernikahan, dan akulturasi budaya. Proses tersebut menunjukkan bahwa keberagaman keagamaan di Indonesia sejak awal tumbuh melalui interaksi dan perjumpaan antarkelompok.
Ia mencontohkan dakwah kultural Wali Songo serta sejumlah kearifan lokal yang selama berabad-abad menjadi perekat kehidupan sosial, seperti Bhinneka Tunggal Ika, Pela Gandong di Maluku, dan Satu Tungku Tiga Batu di Papua Barat.
Namun, harmoni tersebut menurutnya kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Terorisme dan ekstremisme, penolakan terhadap NKRI, eksklusivisme keagamaan, serta menguatnya rasa saling curiga antarpemeluk agama menjadi sejumlah persoalan yang perlu dihadapi bersama.
Dalam konteks tersebut, Prof. Zainul Hamdi menyebut moderasi beragama sebagai “antivirus sosial” sekaligus investasi jangka panjang untuk memastikan perbedaan iman tetap menjadi kekayaan kebudayaan, bukan sumber perpecahan.
Ia menekankan pentingnya membangun cara beragama yang tawasuth atau tidak berlebihan, tawazun atau berimbang, dan tasamuh atau toleran. Menurutnya, Pancasila dan UUD 1945 juga menjadi kalimatun sawa, yakni kesepakatan luhur yang menjadi titik temu seluruh elemen bangsa dan karena itu harus dijaga bersama.
UIN Mataram Dinilai Konsisten Menguatkan Moderasi
Ketua LP2M UIN Mataram, Prof. Kadri, mengapresiasi konsistensi PMB UIN Mataram dalam menghadirkan ruang dialog dan penguatan moderasi beragama.
“Kegiatan yang dilaksanakan Pusat Moderasi Beragama UIN Mataram sangat kontributif dalam menguatkan kehidupan yang toleran di Nusa Tenggara Barat,” ujarnya.
Prof. Kadri menjelaskan, Moderation Connect merupakan agenda yang berjalan beriringan dengan Annual International Conference on Religious Moderation (AICRM). Keduanya kini memasuki penyelenggaraan ketiga pada 2026.
Selama tiga tahun penyelenggaraan, AICRM telah melibatkan akademisi dan jejaring dari lima negara, yakni Indonesia, Libya, Maroko, Malaysia, dan Australia.
Khusus Seminar Nasional tahun ini, peserta berasal dari kalangan PNS muda, terutama dosen dan tenaga kependidikan, serta mitra PMB dari berbagai latar belakang.
Prof. Kadri juga memaparkan sejumlah capaian PMB UIN Mataram. Di lingkungan kampus, sosialisasi dan penguatan moderasi beragama telah diberikan kepada seluruh dosen dan tenaga kependidikan. Penguatan serupa juga menyasar mahasiswa, termasuk mahasiswa baru melalui Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) dalam dua tahun terakhir.
Di bidang publikasi dan media, sindikasi media tahiro.id disebut masuk lima besar paling aktif di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia. Sementara itu, jurnal internasional Tahiro: Journal of Peace and Religious Moderation kini memasuki Volume 3 dan tengah dalam proses menuju akreditasi.
Bangun Kader Moderasi Lintas Iman
Penguatan kaderisasi juga menjadi bagian penting dari gerakan moderasi yang dikembangkan PMB UIN Mataram.
Saat ini terdapat 40 Kader Penggerak Moderasi Beragama lintas iman, 25 Guru Penggerak Moderasi Beragama pada sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, 35 Penggerak Moderasi Beragama di Kabupaten Lombok Utara, serta 15 Penggerak Moderasi Beragama dari unsur penyuluh agama di Lombok Timur.
Jejaring tersebut terus dikembangkan melalui kerja sama dengan organisasi lintas iman, organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, dan sekolah.
NTB sebagai Jembatan Kerukunan
Rektor UIN Mataram, Prof. Masnun, yang sekaligus membuka kegiatan, menyampaikan apresiasinya terhadap konsistensi PMB dalam mengembangkan moderasi beragama di NTB.
“Saya merasa senang dan bangga atas kegiatan yang secara konsisten dilaksanakan oleh Pusat Moderasi Beragama UIN Mataram. Lembaga ini telah berhasil menjadi laboratorium kajian sekaligus pusat syiar moderasi di tengah masyarakat Nusa Tenggara Barat. Hal ini sejalan dengan tagline UIN Mataram sebagai kampus yang Cendekia, Terbuka, dan Unggul,” ungkapnya.
Prof. Masnun menilai posisi geografis dan sosial NTB memiliki arti strategis dalam membangun kerukunan di Indonesia. Menurutnya, NTB dapat menjadi jembatan antara masyarakat dengan latar belakang keagamaan dan kebudayaan yang berbeda di wilayah sekitarnya.
“Hal ini relevan dengan tema yang diusung dalam Moderation Connect, di mana NTB menjadi jembatan (bridging) antara dua entitas keagamaan dan suku yang berada di kedua sisinya. Di sebelah barat ada Bali dengan mayoritas Hindu, dan di sebelah timur ada Nusa Tenggara Timur dengan mayoritas Kristen,” tuturnya.
Seminar Nasional tersebut diikuti oleh berbagai unsur, antara lain PNS muda dari kalangan dosen dan tenaga kependidikan UIN Mataram, para dekan, serta Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (AAKK).
Hadir pula Duta Damai NTB, tokoh lintas iman, para pendeta, perwakilan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), GKII, Lakpesdam PWNU NTB, Lakpesdam PCNU Lombok Barat, KoPITol NTB, dosen dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS), Kader Penggerak Moderasi Beragama NTB dan Lombok Utara, serta Guru Penggerak Moderasi Beragama dari sekolah di bawah naungan Dikbud NTB.
Menutup paparannya, Prof. Zainul Hamdi mengutip pesan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tentang pentingnya kebermanfaatan manusia melampaui sekat agama dan suku.
“Tidak penting apa agama dan sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua manusia, maka orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Melalui Moderation Connect Ke-3 Tahun 2026, PMB UIN Mataram kembali menegaskan perannya sebagai laboratorium kajian sekaligus pusat syiar moderasi beragama, dengan memperluas ruang dialog lintas iman dan lintas budaya untuk memperkuat kerukunan di Nusa Tenggara Barat”



