Uncategorized

Hari Kedua Moderation Connect, AICRM 2026 Perkuat Dialog Moderasi Beragama di Tingkat Internasional

MATARAM, 14 Agustus 2026 —Rangkaian Moderation Connect UIN Mataram memasuki hari kedua dengan penyelenggaraan The 3rd Annual International Conference on Religious Moderation (AICRM) 2026, Jumat (14/8). Mengusung tema “Bridging Culture, Law, and Eco-Theology: A Religious Moderation Approach to Global Peace and Sustainability”, konferensi ini menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian Moderation Connect yang berlangsung selama dua hari.

AICRM 2026 mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang untuk mendiskusikan moderasi beragama dalam kaitannya dengan budaya, hukum, dan eko-teologi. Forum ini sekaligus memperluas ruang dialog akademik mengenai kontribusi agama terhadap perdamaian global dan keberlanjutan lingkungan.

Salah satu pembicara utama yang hadir secara daring adalah Prof. Halim Rane dari Griffith University, Australia. Kehadirannya memperkuat dimensi internasional AICRM sekaligus menghadirkan perspektif akademik global mengenai perkembangan kajian Islam dan moderasi beragama.

Prof. Halim Rane dikenal sebagai akademisi yang menekuni kajian Islam dan sosiologi agama. Ia memimpin bidang studi Islam in Society di Griffith University dan telah menghasilkan lebih dari 80 publikasi ilmiah. Kajian yang dikembangkannya antara lain mencakup pendekatan kontekstual dan maqashid dalam penafsiran Al-Qur’an, kontra-narasi terhadap ekstremisme, kajian covenants dalam Islam, serta relasi Islam dan Barat.

Dalam paparannya, Prof. Rane mengajak peserta melihat moderasi beragama secara lebih luas, bukan semata-mata sebagai posisi “jalan tengah”, tetapi sebagai kerangka berpikir yang mampu menghubungkan persoalan budaya, hukum, dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.

Menurutnya, prinsip keseimbangan (wasathiyyah) dan konsep manusia sebagai pemegang amanah untuk menjaga bumi dapat menjadi fondasi etis dalam membangun perdamaian sekaligus menjawab tantangan keberlanjutan.

Dengan pendekatan penafsiran Al-Qur’an yang kontekstual dan berorientasi pada maqashid al-shari’ah, ia menekankan bahwa menjaga harmoni antarmanusia dan merawat kelestarian alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tanggung jawab keagamaan.

“Moderasi beragama bukan sekadar berdiri di tengah, tetapi keberanian menautkan apa yang selama ini kerap dipisahkan: budaya, hukum, dan tanggung jawab kita atas bumi. Ketika keseimbangan kita maknai sebagai amanah, merawat perdamaian antarmanusia dan menjaga kelestarian alam menjadi satu ibadah yang sama.”

Hadirkan Mahasiswa dari 11 Negara

Dimensi internasional AICRM 2026 juga terlihat dari kehadiran mahasiswa internasional UIN Mataram yang mengikuti konferensi. Mereka berasal dari 11 negara, yakni Afghanistan, Aljazair, Bangladesh, Ghana, Mesir, Nigeria, Pantai Gading, Sudan, Thailand, Togo, dan Yaman.

Kehadiran mahasiswa dari berbagai negara tersebut memperkuat suasana dialog lintas budaya dan lintas negara yang menjadi salah satu karakter utama Moderation Connect. Keragaman tersebut sekaligus mencerminkan perkembangan internasionalisasi pendidikan tinggi di UIN Mataram.

Selain menghadirkan pembicara utama, AICRM 2026 juga menyediakan sesi paralel berupa presentasi artikel terpilih dari sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di Nusa Tenggara Barat.

Artikel-artikel yang dipresentasikan dalam forum tersebut selanjutnya diarahkan untuk dipublikasikan melalui jurnal internasional dan nasional. Dengan demikian, konferensi tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem akademik dan publikasi ilmiah mengenai moderasi beragama.

Moderation Connect Didorong Menjadi Agenda Tahunan

Ketua LP2M UIN Mataram, Prof. Dr. H. Kadri, M.Si., yang membuka sekaligus menutup rangkaian Moderation Connect 2026, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pembicara, peserta, dan panitia yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan.

Menurut Prof. Kadri, forum tersebut menunjukkan pentingnya ruang komunikasi yang inklusif untuk mempertemukan perbedaan budaya, keilmuan, dan kebangsaan dalam semangat membangun harmoni sosial.

“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pembicara dan peserta. Forum ini menegaskan bahwa moderasi beragama tumbuh dari ruang komunikasi yang inklusif, tempat perbedaan budaya, keilmuan, dan bangsa bertemu bukan untuk berdebat, melainkan untuk merawat harmoni dan menggerakkan aksi nyata bagi perdamaian serta keberlanjutan.”

Ia menegaskan bahwa moderasi beragama perlu terus dikembangkan lintas budaya, disiplin ilmu, dan negara. Moderasi, menurutnya, tidak cukup berhenti sebagai gagasan, tetapi harus diterjemahkan dalam tindakan nyata yang memberikan kontribusi bagi perdamaian dan keberlanjutan.

Prof. Kadri juga berharap Moderation Connect dapat terus dikembangkan sebagai agenda tahunan UIN Mataram untuk memperkuat jejaring akademik sekaligus meningkatkan kontribusi kampus dalam percakapan internasional mengenai moderasi beragama.

Menjembatani Budaya, Hukum, dan Eko-Teologi

Penyelenggaraan AICRM 2026 sekaligus mempertegas arah Moderation Connect sebagai ruang perjumpaan berbagai pihak dan lintas iman. Tema yang diangkat tahun ini memperluas pembahasan moderasi beragama dengan menghubungkannya pada persoalan budaya, hukum, dan lingkungan.

Melalui forum akademik dan dialog lintas negara tersebut, Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN Mataram berupaya menjaga agar moderasi beragama tidak berhenti sebagai konsep normatif, tetapi berkembang menjadi perspektif yang relevan untuk menjawab persoalan perdamaian, keberagaman, dan keberlanjutan.

Tentang Moderation Connect

Moderation Connect merupakan rangkaian kegiatan bertema moderasi beragama yang diselenggarakan oleh Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN Mataram. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan multipihak dan lintas iman untuk menjaga semangat moderasi beragama tetap hidup dalam ruang layanan publik, akademik, dan advokasi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button