Pagi-pagi dunia sudah ramai, padahal belum ada satu pun percakapan nyata yang terjadi. Kita terbangun bukan karena cahaya matahari, tapi karena peringatan yang mengingatkan bahwa ada hal-hal yang menunggu di layar. Pesan, notifikasi, berita terkini, diskon 30 persen. Belum membuka mata sepenuhnya, pikiran sudah penuh.
Di jalan, kepala kita menunduk bukan karena malu, tapi karena terlalu banyak yang ingin kita lihat. Tapi dari semua yang kita lihat, apa yang benar-benar kita hayati? Kita membaca ribuan kata setiap hari, tapi lupa kalimat mana yang patut diresapi. Dunia ini seperti ruangan dengan seribu pengerasan suara, dan tak satu pun memberi ruang pada hening untuk bicara.
Yang penting dan yang remeh kini berdiri sejajar. Sebuah berita tentang kematian manusia ditenggelamkan oleh video lucu yang di- repost berulang-ulang. Kita belajar tertawa cepat, cepat marah, lupa lebih cepat. Di era ini, bahkan rasa sedih pun punya batas tampil sebelum harus digeser ke atas oleh cerita berikutnya.
Kita tak lagi tahu apa yang perlu dipikirkan. Semua hal menuntut perhatian, dan kami memberi semuanya, tanpa sempat bertanya mana yang pantas mendapat tempat. Ini bukan lagi tentang kelelahan, tapi kelelahan yang dibungkus dengan nama “keterhubungan.” Kita ke mana-mana, padahal tubuh tak pernah bergerak. Pikiran bersiap melompat sebelum sempat mendarat.
Banyak dari kita yang merasa tertinggal, padahal tidak ada tujuan yang pasti. Banyak yang merasa salah jalan, padahal belum sempat memilih arah. Dunia ini tidak kekurangan informasi, ia kekurangan ruang untuk bernapas. Kita menjadi generasi yang tahu banyak, tapi lupa bagaimana rasanya mengetahui sesuatu secara utuh.
Di rumah, bahkan saat tidak ada pekerjaan, kita tetap merasa harus melakukan sesuatu. Tampaknya diam adalah ancaman, bukan ruang yang dapat dipulihkan. Seolah-olah tak produktif berarti gagal jadi manusia. Padahal, dalam diam yang sebenarnya, kita mulai sadar betapa kita telah dijauhkan dari diri kita sendiri oleh dunia yang terlalu sibuk memberikan segalanya.
Tak semua yang tampak penting memang penting. Tapi kita tak sempat memilah karena terlalu banyak yang masuk. Hari-hari ini, justru memilih untuk fokus adalah tindakan melawan arus. Dan seperti semua bentuk perlawanan yang tenang, ia tampak sepele, tapi menyelamatkan.
Karena hidup yang layak dijalani, mungkin bukan yang dipenuhi oleh semua hal, tapi yang cukup dengan satu hal yang bermakna. Dan itu, tak bisa dicari di kolom trending.





