Mengenal Pengetahuan Lebih Dekat

Oleh : Wahyu Trisno Aji
Mahasiswa S2 Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga UIN Mataram.
Dunia manusia penuh misteri, tidak ditemukan ada hal yang biasa ketika manusia sudah ada dalam lingkaran tersebut. Manusia mencari tahu, dengan beragam cara mereka terhadap konsepsi-konsepsi keberadaan. Yang pastinya, ada sesuatu hal yang sulit sekali di nyatakan. Pengetahuan adalah sekumpulan informasi, kemudian pengetahuan itulah yang menjadi instrumen manusia dalam mencari tahu sesuatu hal.
Sejauh itu, pengetahuan tidak dibatasi, bukan yang dimaksudkan ialah ilmu pengetahuan. Ada demarkasi antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan, pengetahuan adalah informasi yang diperoleh, sedangkan ilmu pengetahuan adalah struktur pengetahuan yang telah melalui metodologi yang bersifat logis dan objektif. Dengan ketat, ilmu pengetahuan bisa mengenali dunia dan di implementasi kan, berbeda dengan pengetahuan yang hanya ada dalam tatanan proposisi-proposisi data informasi.
Pengetahuan tidak terbatas, ia bahkan memiliki syarat untuk eksis. Pengetahuan merupakan infomasi tentang segala sesuatu yang di dapatkan dan ada dalam manusia. Pengetahuan jika di ungkapkan dalam dunia nyata, menjadi pemahaman terhadap pengetahuan, jika hanya pengetahuan tidak dilepaskan dan hanya mengendap dalam fikiran manusia semata, maka itu hanyalah pengetahuan yang diketahui. Perlu di catat, bahwa pengetahuan ini menjadi instrumen dasar untuk manusia melahirkan Ilmu pengetahuan dalam berbagai aspek.
Immanuel kant (1724-1804) yakni filsuf modern yang terkenal dengan jiwa kritisisme nya menyatakan pengetahuan adalah kumpulan informasi yang hanya ada dalam ruang waktu manusia saja. Pengetahuan yang diketahui manusia hanyalah dalam bentuk dan format ruang dan waktu. Tidak ada kemampuan pengetahuan manusia diketahui selain yang berada dalam ruang dan waktu, yang memungkinkan sebuah pengetahuan adalah pengenalan terhadap segala sesuatu yang ada dalam rasio dan empirisme manusia, yang dimana kedua format itu semua ada di ruang dan waktu.
Kemudian dalam pandangan klasik seperti Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322SM) Hampir memiliki format yang sama, namun lebih klasik. Yang mana, keduanya menjelaskan tentang pengetahuan sebagai bagian dasar kenapa manusia sebagai mahkluk hidup, kenapa mereka disebut sebagai hewan berakal. Dengan pengetahuan, disebutkan sebagai cara manusia mengetahui sesuatu yang bisa terbagi, terkonfirmasi, terjelaskan meskipun dalam beragam bentuk kesalahan yang telah di lalui. Pengetahuan adalah awal proses pengenalan terhadap kebenaran, dari situlah, ada kebenaran lahir dari bagaimana manusia mengumpulkan informasi dari pengetahuan yang diperoleh.
Tentu saja, akan ada klaim yang mengatakan, bahwasanya pengetahuan akan terus mengalir dengan sendiri nya. Yang ada bahwa pengetahuan Itu merupakan jenis yang sifatnya menyeluruh dikenali sebagai informasi, jelas saja tidak dibatasi pengetahuan pada dunia materi semata. Melainkan dalam bentuk format idea yang sempurna. Jika mengikuti jejak Plato, maka dunia idea yang sempurna menggambarkan bentuk ideal salam pengetahuan, namun manusia hanya bisa mengekspresikan dalam dunia real bentuk ketidaksempurnaan. Akan tetapi, pengetahuan tentang sesuatu yang lebih kompleks akan melekat dalam diri mereka sebagian sebuah idea pengetahuan.
Rene Descartes (1596-1650) menjelaskan tentang pengetahuan sebagai penguji dari keberadaan segala sesuatu. Dengan pengetahuan yang dimiliki Melalui beragam eksperimen pengujian, disitulah pengetahuan yang sebenarnya dinyatakan ada. Yang ideal dalam pengetahuan manusia adalah pengetahuan itu sendiri, pengetahuan yang sedang berfikir yakni aku sendiri “cogito ergo sum” (Aku berfikir, maka aku ada). Jelas, ini mengindikasikan bahwa pengetahuan dalam perspektif Descartes adalah sekumpulan yang diketahui, lalu kemudian dengan perangkai yang dikenali itu. Aku sebagai subjek lalu kemudian melengkapi dunia semua itu dalam suasana mencari pengetahuan yang lebih lengkap lagi. Yang dikenali sebagai pengetahuan diketahui adalah kebenaran yang ditemukan melalui eksperimen fikiran, semakin mencari, maka semakin menemukan pula sesuatu informasi pengetahuan yang lebih kompleks.
Kemudian dalam perspektif David Hume (1711-1776) mulai melihat dalam dasar pengetahuan, bahwasanya pengetahuan adalah apa yang dikenali dalam inderawi. Objek yang memberikan pengetahuan dalam perspektif ini. Berbeda dengan Rene Descartes yang dengan murni mengenali sesuatu informasi tanpa ketergantungan sebelumnya pada objek. David Hume lebih memiliki sesuatu hal lebih realistis untuk mengenali informasi, yang memilih bahwa apa yang harus menjadi informasi adalah apa yang di rasakan, dilihat, Didengar dan dikenali bentuk bentuknya dalam inderawi manusia. Dengan pengetahuan seperti inilah, kebenaran informasi diperoleh lebih bisa dibuktikan. Karena, tidak mungkin mengetahui sebuah informasi tanpa ada objek nya.
Pengetahuan yang berbeda dalam pengambilan informasi inilah yang membuat kebenaran dalam pengetahuan beragam. Sehingga kant pada penjelasan sebelumnya membuat penarikan bahwa subjek dan objek harus kritis sebagai sebuah pengetahuan, bahwa lebih ketat lagi sebagai ilmu pengetahuan. Kedua nya (rasio dan empiris) penting sebagai instrumen dasar ilmu pengetahuan.
Dengan beragam perjalanan pengetahuan inilah, disadari penting bahwa pengetahuan tidak didasarkan pada keterbatasan. Melainkan, proses sebuah pencarian. Jika ditanyakan dimana posisi kebenaran dalam pengetahuan, maka jawabannya ialah kebenaran akan ada di dunia idea Plato yang begitu sempurna, yang menjadi pengetahuan adalah proses kebenaran dan kesempurnaan itu sendiri. Bahkan, berani mengatakan tidak ditemukan kesempurnaan dalam pengetahuan dimiliki manusia, sehingga dari situlah ilmu pengetahuan memiliki nilai nya sendiri dalam menjelaskan kebenaran nya kuat selagi tidak ada yang membantah dengan kebenaran yang lebih kuat lagi. Manusia miliki pengetahuan yang terus mengalir. Di zaman sekarang, era kontemporer pengetahuan bagai air laut yang begitu bergelombang. Ia asin dengan segala ketidaktahuan dan Sekaligus juga keterbatasan manusia mengenali apa yang ada di kejauhan dilihat oleh mata dan di fikirkan oleh rasio. Zaman kontemporer ini, pengetahuan adalah sekumpulan proposisi yang sama dan ide yang sama sejak orang-orang penting mulai membuat gagasan tentangnya. Sekali lagi, manusia adalah hewan berfikir, namun berfikir mereka adalah mengetahui apa yang mereka kenali dan fahami. Entah itu nantinya akan memberikan idealisme maupun realisme dalam proses dan hasilnya. Pengetahuan akan menjadi misteri sekaligus juga senjata yang paling ampuh hingga detik ini, hanya spesies bernama manusia inilah yang memilikinya.
JADI…
Pengetahuan itu luas, dalam segi definisi dan penangkapan bebas. Pengetahuan dijadikan ungkapan apa yang diketahui dan dikenal. Tidak terbatas pada ruang fisik, melainkan juga ia masuk dalam ranah melampaui fisika.
Pengetahun dalam arti dalam adalah “aku tahu” Yang sekaligus menerangkan ada dua unsur utama, yakni subjek dan objek. Subjek sebagai yang mencari, dan objek sebagai yang dicari. Pengetahuan haruslah memenuhi kedua kriteria tersebut sebagai persyaratan mutlak, sebab tidak mungkin terlahir sebuah pengetahuan dengan subjek tanpa objek, dan sebaliknya tidak mungkin objek lahir sebagai pengetahuan tanpa subjek.
Gelombang informasi menjadi pengetahuan, dan bahkan disebut informasi ketika ada proses interaksi. Sehingga, pengetahuan dapat dikatakan sebagai objek yang begitu kompleks dan luas, dan bahkan tak terbatas sejauh manusia mengenal saat ini. Namun berbeda dengan manusia yang lebih cenderung memposisikan diri sebagai subjek, berusaha mengenal objek sebagai pengetahuan, tentu sebagai subjek memiliki reaksi dan aksi pertama aktif untuk menghadirkan objek sebagai pengetahuan. Sehingga, subjek selalu ada dalam batasan-batasan tertentu dalam memahami objek, sebab intervensi subjek dalam pengetahuan pada objek tidak utuh dan lengkap yang disebabkan subjek memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan pada metodologi yang dimiliki.
Makna pengetahuan tidaklah bisa dibatasi hanya sekedar tahu saja. Namun, makna yang diketahui adalah dunia dari pengetahuan ketika syarat subjek dan objek berada didalam nya untuk berinteraksi.
Pengetahuan memang tidaklah sempurna, sekaligus juga tidak pernah ditemukan selain oleh mahkluk bernama manusia. Para hewan seperti kucing, keong, ikan, tumbuhan dan bahkan batu sekalipun tidak memberikan kepada manusia makna pengetahuan. Akan tetapi, manusia dengan kelebihannya mencari tahu apa yang ada pada informasi kucing, keong, ikan, tumbuhan dan bahkan batu. Interaksi ini merupakan cara manusia memperoleh pengetahuan, yang hingga kini dikembangkan sebagai banyak model pengetahuan, yakni dari ilmu pengetahuan dan pengetahuan kepercayaan. Dunia manusia penuh misteri, tidak ditemukan ada hal yang biasa ketika manusia sudah ada dalam lingkaran tersebut. Manusia mencari tahu, dengan beragam cara mereka terhadap konsepsi-konsepsi keberadaan. Yang pastinya, ada sesuatu hal yang sulit sekali di nyatakan. Pengetahuan adalah sekumpulan informasi, kemudian pengetahuan itulah yang menjadi instrumen manusia dalam mencari tahu sesuatu hal.
Sejauh itu, pengetahuan tidak dibatasi, bukan yang dimaksudkan ialah ilmu pengetahuan. Ada demarkasi antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan, pengetahuan adalah informasi yang diperoleh, sedangkan ilmu pengetahuan adalah struktur pengetahuan yang telah melalui metodologi yang bersifat logis dan objektif. Dengan ketat, ilmu pengetahuan bisa mengenali dunia dan di implementasi kan, berbeda dengan pengetahuan yang hanya ada dalam tatanan proposisi-proposisi data informasi.
Pengetahuan tidak terbatas, ia bahkan memiliki syarat untuk eksis. Pengetahuan merupakan infomasi tentang segala sesuatu yang di dapatkan dan ada dalam manusia. Pengetahuan jika di ungkapkan dalam dunia nyata, menjadi pemahaman terhadap pengetahuan, jika hanya pengetahuan tidak dilepaskan dan hanya mengendap dalam fikiran manusia semata, maka itu hanyalah pengetahuan yang diketahui. Perlu di catat, bahwa pengetahuan ini menjadi instrumen dasar untuk manusia melahirkan I
Ilmu pengetahuan dalam berbagai aspek.
Immanuel kant (1724-1804) yakni filsuf modern yang terkenal dengan jiwa kritisisme nya menyatakan pengetahuan adalah kumpulan informasi yang hanya ada dalam ruang waktu manusia saja. Pengetahuan yang diketahui manusia hanyalah dalam bentuk dan format ruang dan waktu. Tidak ada kemampuan pengetahuan manusia diketahui selain yang berada dalam ruang dan waktu, yang memungkinkan sebuah pengetahuan adalah pengenalan terhadap segala sesuatu yang ada dalam rasio dan empirisme manusia, yang dimana kedua format itu semua ada di ruang dan waktu.
Kemudian dalam pandangan klasik seperti Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322SM) Hampir memiliki format yang sama, namun lebih klasik. Yang mana, keduanya menjelaskan tentang pengetahuan sebagai bagian dasar kenapa manusia sebagai mahkluk hidup, kenapa mereka disebut sebagai hewan berakal. Dengan pengetahuan, disebutkan sebagai cara manusia mengetahui sesuatu yang bisa terbagi, terkonfirmasi, terjelaskan meskipun dalam beragam bentuk kesalahan yang telah di lalui. Pengetahuan adalah awal proses pengenalan terhadap kebenaran, dari situlah, ada kebenaran lahir dari bagaimana manusia mengumpulkan informasi dari pengetahuan yang diperoleh.
Tentu saja, akan ada klaim yang mengatakan, bahwasanya pengetahuan akan terus mengalir dengan sendiri nya. Yang ada bahwa pengetahuan Itu merupakan jenis yang sifatnya menyeluruh dikenali sebagai informasi, jelas saja tidak dibatasi pengetahuan pada dunia materi semata. Melainkan dalam bentuk format idea yang sempurna. Jika mengikuti jejak Plato, maka dunia idea yang sempurna menggambarkan bentuk ideal salam pengetahuan, namun manusia hanya bisa mengekspresikan dalam dunia real bentuk ketidaksempurnaan. Akan tetapi, pengetahuan tentang sesuatu yang lebih kompleks akan melekat dalam diri mereka sebagian sebuah idea pengetahuan.
Rene Descartes (1596-1650) menjelaskan tentang pengetahuan sebagai penguji dari keberadaan segala sesuatu. Dengan pengetahuan yang dimiliki Melalui beragam eksperimen pengujian, disitulah pengetahuan yang sebenarnya dinyatakan ada. Yang ideal dalam pengetahuan manusia adalah pengetahuan itu sendiri, pengetahuan yang sedang berfikir yakni aku sendiri “cogito ergo sum” (Aku berfikir, maka aku ada). Jelas, ini mengindikasikan bahwa pengetahuan dalam perspektif Descartes adalah sekumpulan yang diketahui, lalu kemudian dengan perangkai yang dikenali itu. Aku sebagai subjek lalu kemudian melengkapi dunia semua itu dalam suasana mencari pengetahuan yang lebih lengkap lagi. Yang dikenali sebagai pengetahuan diketahui adalah kebenaran yang ditemukan melalui eksperimen fikiran, semakin mencari, maka semakin menemukan pula sesuatu informasi pengetahuan yang lebih kompleks.
Kemudian dalam perspektif David Hume (1711-1776) mulai melihat dalam dasar pengetahuan, bahwasanya pengetahuan adalah apa yang dikenali dalam inderawi. Objek yang memberikan pengetahuan dalam perspektif ini. Berbeda dengan Rene Descartes yang dengan murni mengenali sesuatu informasi tanpa ketergantungan sebelumnya pada objek. David Hume lebih memiliki sesuatu hal lebih realistis untuk mengenali informasi, yang memilih bahwa apa yang harus menjadi informasi adalah apa yang di rasakan, dilihat, Didengar dan dikenali bentuk bentuknya dalam inderawi manusia. Dengan pengetahuan seperti inilah, kebenaran informasi diperoleh lebih bisa dibuktikan. Karena, tidak mungkin mengetahui sebuah informasi tanpa ada objek nya.
Pengetahuan yang berbeda dalam pengambilan informasi inilah yang membuat kebenaran dalam pengetahuan beragam. Sehingga kant pada penjelasan sebelumnya membuat penarikan bahwa subjek dan objek harus kritis sebagai sebuah pengetahuan, bahwa lebih ketat lagi sebagai ilmu pengetahuan. Kedua nya (rasio dan empiris) penting sebagai instrumen dasar ilmu pengetahuan.
Dengan beragam perjalanan pengetahuan inilah, disadari penting bahwa pengetahuan tidak didasarkan pada keterbatasan. Melainkan, proses sebuah pencarian. Jika ditanyakan dimana posisi kebenaran dalam pengetahuan, maka jawabannya ialah kebenaran akan ada di dunia idea Plato yang begitu sempurna, yang menjadi pengetahuan adalah proses kebenaran dan kesempurnaan itu sendiri. Bahkan, berani mengatakan tidak ditemukan kesempurnaan dalam pengetahuan dimiliki manusia, sehingga dari situlah ilmu pengetahuan memiliki nilai nya sendiri dalam menjelaskan kebenaran nya kuat selagi tidak ada yang membantah dengan kebenaran yang lebih kuat lagi. Manusia miliki pengetahuan yang terus mengalir. Di zaman sekarang, era kontemporer pengetahuan bagai air laut yang begitu bergelombang. Ia asin dengan segala ketidaktahuan dan Sekaligus juga keterbatasan manusia mengenali apa yang ada di kejauhan dilihat oleh mata dan di fikirkan oleh rasio. Zaman kontemporer ini, pengetahuan adalah sekumpulan proposisi yang sama dan ide yang sama sejak orang-orang penting mulai membuat gagasan tentangnya. Sekali lagi, manusia adalah hewan berfikir, namun berfikir mereka adalah mengetahui apa yang mereka kenali dan fahami. Entah itu nantinya akan memberikan idealisme maupun realisme dalam proses dan hasilnya. Pengetahuan akan menjadi misteri sekaligus juga senjata yang paling ampuh hingga detik ini, hanya spesies bernama manusia inilah yang memilikinya.
JADI…
Pengetahuan itu luas, dalam segi definisi dan penangkapan bebas. Pengetahuan dijadikan ungkapan apa yang diketahui dan dikenal. Tidak terbatas pada ruang fisik, melainkan juga ia masuk dalam ranah melampaui fisika.
Pengetahun dalam arti dalam adalah “aku tahu” Yang sekaligus menerangkan ada dua unsur utama, yakni subjek dan objek. Subjek sebagai yang mencari, dan objek sebagai yang dicari. Pengetahuan haruslah memenuhi kedua kriteria tersebut sebagai persyaratan mutlak, sebab tidak mungkin terlahir sebuah pengetahuan dengan subjek tanpa objek, dan sebaliknya tidak mungkin objek lahir sebagai pengetahuan tanpa subjek.
Gelombang informasi menjadi pengetahuan, dan bahkan disebut informasi ketika ada proses interaksi. Sehingga, pengetahuan dapat dikatakan sebagai objek yang begitu kompleks dan luas, dan bahkan tak terbatas sejauh manusia mengenal saat ini. Namun berbeda dengan manusia yang lebih cenderung memposisikan diri sebagai subjek, berusaha mengenal objek sebagai pengetahuan, tentu sebagai subjek memiliki reaksi dan aksi pertama aktif untuk menghadirkan objek sebagai pengetahuan. Sehingga, subjek selalu ada dalam batasan-batasan tertentu dalam memahami objek, sebab intervensi subjek dalam pengetahuan pada objek tidak utuh dan lengkap yang disebabkan subjek memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan pada metodologi yang dimiliki.
Makna pengetahuan tidaklah bisa dibatasi hanya sekedar tahu saja. Namun, makna yang diketahui adalah dunia dari pengetahuan ketika syarat subjek dan objek berada didalam nya untuk berinteraksi.
Pengetahuan memang tidaklah sempurna, sekaligus juga tidak pernah ditemukan selain oleh mahkluk bernama manusia. Para hewan seperti kucing, keong, ikan, tumbuhan dan bahkan batu sekalipun tidak memberikan kepada manusia makna pengetahuan. Akan tetapi, manusia dengan kelebihannya mencari tahu apa yang ada pada informasi kucing, keong, ikan, tumbuhan dan bahkan batu. Interaksi ini merupakan cara manusia memperoleh pengetahuan, yang hingga kini dikembangkan sebagai banyak model pengetahuan, yakni dari ilmu pengetahuan dan pengetahuan kepercayaan.




