Esai

Qur’an dalam Renungan; Q.S An-Naba’ [70] Ayat 1-4

Apa gerangan pertanyaan yang sering kita dialog-kan dalam diri kita? Dalam benak, pikiran, memori, dan keseharian? Apa ketidaktahuan yang sering membuat kita gelisah? Apakah tentang masa lalu yang telah terjadi? Atau justru masa depan yang penuh dengan misteri? Apakah tentang perkara remeh-temeh? Atau perkara besar yang monumental?

Kegelisahan-kegelisahan yang hadir melalui pertanyaan, adalah ciri khas yang melekat pada diri manusia. Yang lahir dengan ketidaktahuan, berkembang dengan pengetahuan, dan kemudian berujung kembali pada ketidaktahuan. Ciri melekat yang digambarkan Al-Qur’an melalui عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ   (Tentang apakah gerangan mereka saling bertanya?). Ciri yang menariknya justru tak pernah benar-benar hilang, meski peradaban berganti dan zaman berubah berupa-rupa. Anak kecil akan bertanya “kenapa langit berwarna biru?”, lalu ketika dewasa ia bertanya dengan pertanyaan yang lebih filosofis “untuk apa semua ini?”, dan ketika sampai pada usia renta, dengan letih manusia kembali bertanya “ke mana lagi aku akan pergi?”. Seolah- olah kita memang diciptakan dalam lingkaran pertanyaan yang tiada henti. Meskipun pada beberapa momen, manusia diberikan kesempatan untuk merasa “tahu” tentang begitu banyak hal. Siklus kehidupannya, tak lepas dari bermula pada ketidaktahuan, dan kembali pula pada ketidaktahuan.

Melalui Kalam-Nya, Allah Subhanahu wa ta’ala menyinggung kegelisahan paling ultim, yang dalam konteks historis, mengisi ruang-ruang perdebatan di kalangan orang-orang musyrikin Makkah yang saling berbisik, berdebat, bahkan saling mengejek tentang satu kegelisahan;  mungkinkah manusia yang telah mati dan daging serta tulang-belulangnya hancur menjadi tanah, dibangkitkan kembali? Mungkinkah segala yang ada akan binasa pada suatu masa? Segala Pertanyaan yang memang ditujukan tentang satu kabar yang luar biasa dahsyatnya (naba’il azhim), yang membuat mereka saling berdebat satu sama lain (mukhtalifun) dan pada suatu masa, akan mereka dapatkan jawabannya (saya’lamun)

Berita yang maha besar, yang oleh sebagian ulama tafsir dimaknai sebagai berita tentang kiamat (Qiyamah) serta hari di mana jasad yang telah hancur menyatu dengan tanah, dikumpulkan kembali (al-ba’ts); hari di mana tangan, kaki, berucap dan bersaksi, atas apa saja yang telah empunya lakukan.

Setiap yang tersembunyi dalam diri manusia akan terbuka tanpa hijab, dan manusia akan berdiri sendiri, tanpa alibi, tanpa argumentasi, kembali menghadap Sang Pemilik Berita Besar  dengan catatan amal yang tertulis tetapi membisu namun berbicara tentang segala perbuatannya. Sebuah kabar yang begitu besar, sehingga selayaknya menjadi pusat gravitasi dari seluruh kegelisahan manusia, bukan justru menjadi perkara sampingan yang kita dongengkan, seakan menjadi cerita pengantar tidur, atau sekedar menakut-nakuti anak kecil.

Allah menjawab dengan kepastian atas kegelisahan-kegelisahan yang tidak pasti. Dengan sesuatu layak disebut ‘azhim karena pengetahuan akannya melampaui kapasitas akal manusia untuk mengurai intinya secara tuntas.  Hari kebangkitan adalah sesuatu yang diyakini, diimani, namun hakikatnya tetap berada di balik tabir-tabir keterbatasan manusia. Pertanyaan manusia bisa saja tidak terbatas, tetapi kemampuan untuk mejawab segala pertanyaan, tentu sesuatu yang mustahil baginya.

Maka barangkali, di Tengah riuh ‘jawaban’ informasi, manusia sudah merasa tak perlu lagi bertanya. Semua sudah dan akan diketahui lewat layar-layar dan koneksi, sulapan sihir algoritma yang mampu membuat manusia merasa memiliki kemampuan untuk answering the unanswered questions. Keadaan yang semakin mengaburkan batas-batas ketidaktahuan, membuat perhatian pada naba’il azhim sudah tenggelam di lapis-lapis folder gawai yang kita miliki.

Manusia masih berselisih (mukhtalifun) meskipun mimbarnya tak lagi di sudut-sudut kota Makkah melainkan di panggung-panggung media sosial dengan segala carut-marutnya. Kita membawa kegelisahan dan perselisihan pada objek yang tidak pasti, dengan substansi keraguan yang sesungguhnya tak jauh berbeda dari yang dahulu diperdebatkan orang-orang musyrikin terdahulu. Sedang kegelisahan itu, seharusnya terhapuskan dengan jawaban yang Allah berikan.

Kalla saya’lamun, tsumma kalla saya’lamun. Suatu saat kita akan menemukan kepastian itu. Kepastian yang membuat kita menertawakan apa yang kita gelisah-kan saat ini.

Tetapi akan kehilangan konteks apabila potongan pembuka surat An-Naba’ ini memunculkan asumsi bahwa menjadi muslim berarti menolak untuk bertanya, bukan pula kepasrahan buta tanpa ada pertanyaan, karena iman yang matang bukanlah iman yang tak pernah bertanya, melainkan iman yang telah selesai bertanya ketika telah menemukan jawaban yang tepat. Maka tasa’ul (bertanya-tanya) tentang  perkara-perkara sam’iyyat seperti hari kebangkitan boleh saja hadir sebagai penciri alamiah dari manusia, tetapi ia secara niscaya akan berujung pada tasdiq (pembenaran) begitu kabar itu datang dari Yang Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui manusia, sebab menuntut jawaban rinci atas sesuatu yang memang sengaja disembunyikan hikmahnya dari manusia, sama saja dengan menuntut mata untuk melihat cahaya yang berada di luar jangkauan spektrumnya.

Muhammad Rizky HK

Akademisi UIN Mataram

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button