Esai

Religiotainment; Antara Hiburan dan Keselamatan

Oleh : Muhammad Rizky HK.
Akademisi UIN Mataram

Di zaman ini, kita hidup dalam dunia di mana filter kamera bisa lebih dipercaya ketimbang isi kitab, dan ucapan “amin” lebih sering diketik dalam kolom komentar daripada benar-benar direnungkan dalam hati. Agama, yang dulu hadir dalam ruang-ruang sunyi dan perenungan pribadi, kini justru tampil mencolok di layer penuh spotlight. Ia muncul dalam talkshow televisi, sinetron religi, hingga potongan dakwah satu menit di TikTok dengan latar musik yang dibuat menyentuh.

Di tengah banjir visual dan ledakan informasi digital, agama tak lagi tampil sebagai kekuatan kontemplatif yang membentuk kesadaran etis. Ia kini muncul dalam format yang disesuaikan dengan logika konsumsi: filtered, disunting, dan dibungkus dalam estetika media. Kita menyaksikan pergeseran mendasar: agama bergeser dari praksis eksistensial menuju performa representasional.

Mungkin inilah yang dimaksud dengan “Religiotainment” sebuah persilangan antara sakralitas dan sensasi, antara keimanan dan algoritma. Kini, kita tak lagi mendengar Agama sebagai pesan moral menjalani kehidupan an sich. Kini kita mengkonsumsinya sebagai hiburan.

Dalam konteks Indonesia, persilangan ini hadir dalam bentuk “Islamtainment”. Ketika Shalawat-an tidak lagi bergema di surau-surau atau musholla, tetapi digelar gegap gempita dengan souns system mutakhir dan bahkan diawali dengan alunan music yang lebih identic dengan night club ketimbang Majelis Ta’lim. Ketika Ustadz tampil sebagai influencer, tidak sekedar pendamping penasehat menuju jalan kebenaran, tetapi sebagai selebgram, yang kutipan nasehatnya dipotong dan dishare dibalut music syahdu yang menenangkan

Dengan penampilan glamor dengan jargon khas, yang dikejar bukan lagi menyampaikan pesan, melainkan mengejar progress algoritmitk; trending. Belum lagi narasi tobat artis yang dikemas dramatik, hingga kajian-kajian instan yang berubah menjadi semacam paguyuban yang ujung-ujungnya berujung pada endorsement produk tertentu. Dalam kondisi seperti ini, agama tidak lagi tampil sebagai jalan eksistensial menuju yang transenden, tetapi sebagai citra yang dijual dalam pasar makna.

Yang dikejar bukan lagi kedalaman pesan, melainkan visibility; apa yang trending, apa yang menyentuh, apa yang mudah dibagikan. Di titik ini, seperti dikatakan Baudrillard, “We live in a world where there is more and more information, and less and less meaning”. Dakwah menjadi konten. Tobat menjadi drama. Kajian berubah menjadi komunitas gaya hidup yang berujung pada strategi pemasaran dan produk endorse.

Maka, agama tidak lagi tampil sebagai jalan eksistensial menuju Yang Ilahi, tetapi sebagai aura yang dikomodifikasi di pasar tanda. Ia menjadi sekedar representasi dari performa spiritual dalam lanskap digital yang dikendalikan oleh logika kapitalisme afeksi di mana kesalehan harus tampil menarik, dan kesucian harus bisa dipasarkan. Agama menjadi simulacrum; menjadi sekedar tanda tentang kesalehan tanpa substansi spiritual.

Seorang influencer hijrah yang berdakwah sambil menyisipkan promo bisnis syariah bukanlah penyimpangan dari ajaran, melainkan pada level ‘mengganti’ makna dan tujuan semula dari ajaran yang ‘asli’. “The simulacrum is never that which conceals the truth, it is the truth which conceals that there is none. The simulacrum is true”.  Di sinilah ustaz sebagai brand menggantikan ustaz sebagai pewaris ilmu. Gaya bicara, selera humor, dan kehadiran di podcast lebih menentukan otoritas keagamaan daripada sanad atau tingkatan moralitas spiritual.

Walhasil, semuanya hanyalah entertainment belaka. Bahkan pengampunan bisa dikemas sebagai tontonan. Kisah pertobatan artis lengkap dengan air mata dan efek sinematik menjadi komoditas spiritual baru. Emosi spiritual yang sebelumnya bersifat batiniah kini menjadi aset visual yang bisa dikapitalisasi. Ini adalah apa yang Baudrillard sebut sebagai hyperreality, yaitu ketika simulasi tidak hanya menggantikan kenyataan, tapi menjadi kenyataan yang dianggap lebih otentik daripada aslinya.

In the era of simulation, everything becomes aestheticized; even salvation must now be visual and shareable. Begitu pula tayangan “pengampunan” dan “pertobatan” yang menjadi tontonan realitas “menyentuh”, tapi sekaligus menyimpan kepalsuan. Ia membentuk realitas semu tentang tobat, di mana spiritualitas dibingkai bukan sebagai relasi eksistensial dengan Tuhan, tapi sebagai narasi sinematik yang siap tayang di YouTube.

Dalam konteks ini, Islamtainment beroperasi dalam ekonomi kapitalistik tanda: siapa yang lebih menarik perhatian, dialah yang lebih bernilai. Ini bukan karena ajarannya lebih mendalam, tapi karena estetikanya lebih menjual; lebih banyak viewers dan followers. Dakwah hari ini bukan tentang kebenaran, tetapi keterlihatan. “Visibility is the only truth left”.

Pada akhirnya, Religiotainment adalah wajah paling halus dari krisis religiusitas. Ia bukan anti-agama, tapi overexposure terhadap agama yang telah kehilangan kedalaman ontologisnya. Ia menjadikan Islam sebagai tontonan, bukan pengalaman eksistensial. “We live in a world where there is more and more information, and less and less meaning”. Dalam dunia seperti ini, agama menjadi semacam kebisingan (noise) di antara jutaan sinyal.

Maka, tantangan kita bukan sekadar memisahkan mana dakwah yang tulus dan mana yang sekedar gimmick. Tapi menyadari bahwa kita hidup dalam dunia yang telah membingkai Tuhan ke dalam logika layar dan konsumsi. Barangkali, di era seperti ini, tindakan paling spiritual adalah berhenti sejenak dan membiarkan keheningan menjadi ruang bagi yang transenden kembali berbicara, atau malah beradu visibilitas; bersaing di ruang digital, memurnikan kembali pesan agama dalam ruang digital yang semakin bising.

Pilihannya; Mau digital atau ditinggal?

Muhammad Rizky HK

Akademisi UIN Mataram

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button