Apa itu Chaotic Modernity?

Dalam ajaran kitab agama samawi, manusia sejak awal mendiami dunia yang kacau (chaotic). Tentu kita bisa membaca ulang bagaimana kekacauan muncul tatkala Adam diciptakan. Para malaikat berdesas-desus tentang potensi chaos yang ditimbulkan manusia. Walhasil Tuhan Yang Serba Tahu memberikan isyarat bahwa Malaikat tidak mengerti dunia dan dinamika seperti apa yang akan dijalani manusia.
Seakan akan juga mengisyaratkan bahwa para malaikat belum memahami medan permainan yang akan dihuni manusia, dan bahwa sifat chaotic manusia akan sangat cocok dan kompatibel dengan the chaotic playground; Bumi dan seisinya.
Bahkan di awal kemunculannya di bumi pun, Karakter Chaotic menguat dalam dinamika kehidupan manusia. Kisah Habel dan Kain, Kontroversi perahu Nuh, bahkan kekacauan yang ditimbulkan Ibrahim. Seakan menegaskan bahwa chaos bukanlah anomali atau disorentasi, Chaos adalah modus operandi dari makhluk bernama manusia.
Pembacaan awal ini saya pinjam untuk menjelaskan apa dan bagaimana Chaotic Modernism. Suatu kondisi yang menurut saya menggambarkan sekali karakter modernitas masa ini. Chaotic modernism yang dimaksud di sini bukan sekadar pembalikan metafor dari apa yang dipopulerkan oleh Zygmunt Bauman sebagai Liquid Modernity, tetapi lebih dari itu, menjadi upaya mengembalikan modernitas kembali ke akar chaos-nya.
Ya Modernitas yang kacau, bukan cair.
Dalam konsep Bauman, Jika Liquid Modernity adalah semangkuk es teler yang berisikan campuran dari kelapa, kolangkaling, susu kental manis, sirup, dan es serut. Maka modernitas kemudian akan tergambar sebagai sesuatu yang cair, manis, dan lumer. Namun Bauman lupa melihat gelas kaca yang kokoh menopangnya. Lupa melihat sendok yang dengan sombong mengaduk dan mempercepat pelarutan. Dalam analogi ini, Modernitas tidak liquid, ia ‘dipaksa’ untuk mencair, terpakasa diaduk oleh kekuatan yang laten: teknologi, kapital, birokrasi, dan kekuasaan.
Karena itulah saya menegaskan bahwa kombinasi dari chaotic dan kemapanan institusional modernitas-lah yang sebenarnya bekerja. Sementara liqudity hanyalah efek samping dari adukan kekuasaan. Liquid modernity berusaha mengambang dalam estetika warna-warni, seolah harmoni dapat muncul dari disharmoni. Padahal yang terjadi adalah benturan, gesekan, dan kontradiksi; seperti alpukat yang dipaksa menyatu dengan es serut. Dengan menyebut dunia cair, Bauman menyingkirkan sisi paling liar modernitas: kekacauan yang selalu teraduk terkoyak sampai pada ujung-nya; mencair.
Modernitas hari ini lebih mirip adukan antar-individu modern yang setiap saat dapat meledak. Kita tidak sedang mengalir dan mencair seperti kata Bauman; kita sedang diaduk dan teraduk. Liquidity memberi ilusi bahwa perubahan berjalan lembut, bahwa adaptasi hanyalah aliran pelan. Padahal perubahan modern adalah tekanan, gesekan, dan disorientasi yang melompat dan berputar. Tidak ada aliran; yang ada adalah chaos.
Chaos is a ladder, begitu ucap LittleFinger.
Chaotic Modernism karena itu hadir bukan sebagai metafor baru yang semata menggantikan ‘cair’, tetapi sebagai kacamata untuk melihat modernitas sebagai sistem yang digerakkan oleh ketidakstabilan struktural.
It is my friend, a background of our stories
Dari cerita kitab suci hingga dongeng para legenda. Dari cerita langit hingga cerita-cerita rakyat. Sejak awal dan muasal, manusia lahir untuk chaos. Kekacaauan yang hanya darinya-lah harmoni akan lahir. Penyesalan Kain, Ratapan Putra Nuh, Berangnya Namrudz, dan Binasanya Fir’aun, melahirkan epistemologi baru, kerangka berfikir baru yang dengannya dunia dan seisinya bertahan.
Bahkan butuh dentuman besar di Hiroshima dan Nagasaki, untuk bisa menghentikan perang yang menahun.
Modernitas sebagai sebuah framework, adalah sesuatu yang tidak pernah benar-benar cair, ia adalah benda padat yang dapat sedikit retak, berguncang, dan terus dipaksa untuk menata diri dalam kondisi tanpa stabilitas di dalam kemapanan bentuknya.
Chaotic modernism kemudian melihat dunia sebagai jaringan yang retak. Modernitas dewasa ini menjelma menjadi suara gaduh yang menghidupkan suasana, sangat kontras dengan aliran air yang mengalir di tepian sungai; Tenang tapi kosong melompong. Modernitas seharusnya diperjuangkan menjadi ruang pertarungan deliberasi; yang setiap harinya berkelahi. Bukan salam cium pipi kanan tumbuk pipi kiri.
Ia adalah dalah arena pertarungan gladiator yang di mana modernitas masing-masing kubu bertumbuk dan beraduk. Modernitas yang kalah harus mati dan binasa.
Dalam lanskap seperti ini, metafor cair tidak hanya salah tetapi sesat. Yang kita butuhkan bukan metafor yang menenangkan, tetapi konsep yang memungkinkan kita menatap langsung keganasan zaman. Bahwa Ide yang bertumbuk dan bertarung secara konstan, adalah kekacauan yang diniscayakan zaman. Sedang kecairan dan ketenangan, adalah tipuan ilusi yang melenakan.




