Opini

Eksistensi yang Dibelenggu: Ironi Manusia dalam Jeratan Algoritma

Transformasi digital bukan sekadar kisah sukses teknologi, melainkan juga tragedi kecil di panggung eksistensi manusia. Di Indonesia, digitalisasi berkembang bagai arus besar: laju pesat, penuh janji, kadang menenggelamkan. Pada tahun 2024, APJII mencatat penetrasi internet nasional telah mencapai 79,5% populasi, atau sekitar 221 juta jiwa. Dari total itu, rerata waktu yang dihabiskan untuk berselancar di dunia maya adalah 8 jam 36 menit per hari—nyaris separuh waktu terjaga kita habiskan bersama layar, bukan manusia (We Are Social & Kepios, 2024).

Ironi segera mengintai. Indonesia boleh bangga memiliki “bonus demografi digital”, dengan lebih dari 53% pengguna internet adalah generasi muda dalam rentang usia 15–39 tahun (berdasarkan data APJII), namun riset Microsoft Digital Civility Index 2023 menempatkan Indonesia pada peringkat rendah dalam etika digital se-Asia Tenggara. Tidak mengherankan bila literasi digital Indonesia pada survei Kominfo dan Katadata (2023) tetap bertengger di angka 3,54 dari skala 5: “cukup,” istilah yang jika diujikan pada moral digital, artinya masih mudah digiring hoaks, radikalisme, dan polarisasi politik berbasis viral.

Dari aspek kerja, kemajuan digital telah memunculkan fenomena gig economy yang mengubah relasi antara manusia, pekerjaan, dan nilai. Bank Dunia (2022) mencatat, lebih dari 33 juta orang di Indonesia bekerja dalam ekonomi digital informal : dari driver ojek online, freelancer desain, hingga pedagang di marketplace. Di balik narasi optimisme, tersembunyi sisi getir: 72% dari pekerja digital tersebut tidak memiliki jaminan sosial, dan 58% mengaku rentan kehilangan penghasilan bila platform mengubah algoritma atau kebijakan. Maka, di balik retorika “teknologi membebaskan,” sering kali yang terjadi justru teknologi membebani.

Jika menengok ruang publik digital, keadaan tidak lebih menggembirakan. Survei LIPI-LSI (2023) menunjukkan 68% pengguna media sosial di Indonesia terpapar hoaks politik minimal sekali sebulan, dan 41% pernah ikut menyebarkannya. Dalam pusaran pemilu, WhatsApp Group dan Facebook menjadi wahana utama diseminasi kabar bohong, dengan data Reuters Institute Digital News Report (2024) menempatkan Indonesia di peringkat tiga besar dunia dalam penyebaran hoaks politik via media sosial.

Kita sedang mengalami transposisi etika dan epistemologi. Jika dahulu ruang publik dibayangkan sebagai “Lebenswelt” ala Husserl atau Habermas: sebuah ranah bersama tempat manusia berbagi makna dan membangun konsensus secara reflektif, maka hari ini ruang publik kerap tereduksi menjadi arena algoritmik yang ramai, bising, dan dangkal. Like, share, retweet menggantikan perdebatan konseptual, sementara meme politik dan video singkat sering kali lebih dipercaya ketimbang makalah atau jurnal ilmiah. Di era algoritma, kebenaran bukan lagi soal verifikasi, tetapi soal viralitas. Orang bijak barangkali kini hidup di timeline yang sepi, sementara para penggiring opini menari dalam trending topic.

Barangkali, inilah bentuk baru determinisme teknologi di Indonesia. Homo Sapiens, manusia yang berpikir, perlahan bermetamorfosis menjadi Homo Algorithmicus : makhluk yang bukan sekadar mengakses data, tetapi secara sadar maupun tidak, membiarkan algoritma mengatur preferensi, emosi, bahkan moralitas mereka sendiri. Fenomena filter bubble dan echo chamber mengurung kita dalam ruang gema digital, membuat kita kian sulit membedakan antara opini dan fakta, kebenaran dan popularitas.

Secara empiris, pengaruh AI dan otomatisasi sudah mulai terasa nyata. McKinsey Global Institute (2023) memprediksi, dalam enam tahun ke depan, sekitar 23 juta pekerjaan di Indonesia akan terotomatisasi. Laporan LinkedIn Economic Graph (2024) mengungkap, permintaan skill digital (coding, data analysis, AI) tumbuh 4 kali lebih cepat dibanding skill tradisional, sementara kesenjangan talenta digital nasional masih menganga lebar. Ironisnya, hampir 60% lulusan universitas Indonesia belum memiliki keterampilan digital dasar yang dibutuhkan pasar kerja masa depan.

Di sinilah letak satire dan kegetiran zaman: manusia modern mengagungkan kebebasan digital, tetapi kerap menjadi objek dari desain sistem yang tidak sepenuhnya ia kuasai. Banyak yang percaya teknologi adalah solusi universal, padahal di balik layar, infrastruktur digital Indonesia sendiri masih jauh dari merata. Akses internet cepat di kota besar belum tentu dirasakan siswa di pelosok, sementara gap literasi digital antara Jawa dan luar Jawa semakin lebar (APJII; Katadata).

Apakah kita sekadar akan membiarkan diri dituntun oleh algoritma yang didesain untuk menciptakan adiksi, polarisasi, dan konsumsi? Ataukah kita masih punya hasrat dan kapasitas untuk mengembangkan literasi kritis, memperkuat etika digital, dan membangun ruang publik daring yang sehat serta dialogis?

Pilihan ada pada manusia Indonesia itu sendiri. Apakah ingin menjadi sekadar konsumen algoritma, atau justru pencipta makna di tengah riuhnya transformasi digital. Mungkin, sudah saatnya kita kembali belajar dari para filsuf: untuk bertanya, bukan sekadar menerima. Untuk berpikir, bukan sekadar meng-klik. Dan untuk tidak lupa bahwa di balik setiap layar, masih ada manusia yang harus tetap menjadi tuan atas nasibnya sendiri.

M.A.P.

Akademisi, Dosen Filsafat Politik UIN Mataram. Peneliti di Paranawa Institute. Satiris, Esais, Pemancing Laut.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button